Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Malang Raya

Sumber Wadon Terancam, Warga Putukrejo Pertahankan Nafas Kehidupan dari Sawah Mereka

×

Sumber Wadon Terancam, Warga Putukrejo Pertahankan Nafas Kehidupan dari Sawah Mereka

Sebarkan artikel ini
Banner penolakan warga Desa Putukrejo terkait rencana proyek Perumda Tirta Kanjuruhan Malang (foto istimewa).

Solusiindonesia.com  — Di tengah hamparan sawah yang hijau di Desa Putukrejo, Gondanglegi, suara keresahan kian nyaring terdengar. Sumber air Wadon yang selama ini menjadi urat nadi pertanian dan kebutuhan sehari-hari warga, tiba-tiba masuk dalam rencana proyek Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Kanjuruhan.

Alih-alih disambut dengan sukacita, kabar ini justru memantik gelombang penolakan. Warga merasa tak pernah diajak bicara. “Tahu-tahu ada proyek yang mau mengeruk sumber air kami. Kalau dipaksakan, bagaimana nasib sawah kami? Debit air pasti berkurang dan panen ikut terancam,” ujar Pak Ji seorang petani setempat dengan nada gusar saat ditemui awak media di lokasi Sumber Wadon. Jumat (19/9/2025).

Bagi warga Putukrejo, air bukan sekadar aliran yang jernih, melainkan kehidupan itu sendiri. Di balik setiap tetes air Sumber Wadon, ada harapan tumbuh padi, sayuran, hingga buah-buahan yang menjadi sumber penghidupan.

Maka tak heran jika kabar proyek dengan nilai miliaran rupiah ini memantik kecurigaan. Apalagi, informasi yang beredar menyebutkan surat kerja proyek sudah diterbitkan meski izin warga belum pernah dikantongi.

Desas-desus soal adanya “permainan mata” oknum pejabat dengan kontraktor pun kian menguat. Warga khawatir sumber air yang mereka rawat turun-temurun dijual murah demi kepentingan segelintir orang. “Kami takut kehilangan air bersih. Kalau sumber ini dikuasai, petani bisa gagal panen. Apa ada yang mau tanggung jawab?” keluhnya.

Keresahan itu bukan tanpa alasan. Nama perusahaan pemenang tender sudah diumumkan, lengkap dengan nilai proyek yang mencapai Rp1,7 miliar. Namun bagi warga, bukan angka itu yang penting, melainkan keberlangsungan hidup.

Di tengah polemik yang kian meruncing, warga pun mendesak Bupati Malang untuk turun tangan. Mereka juga berharap aparat penegak hukum menelisik dugaan adanya praktik korupsi dalam proyek ini. “Ini demi menyelamatkan aset daerah sekaligus melindungi hak masyarakat,” tegas Pak Ji.

Kantor Balai Desa Putukrejo Gondanglegi Kabupaten Malang (foto istimewa).

Pemerintah desa sempat turun tangan memediasi. Kepala Dusun Krajan Putukrejo, Lutfi, menuturkan bahwa pihak desa sudah memediasi bersama warga terkait rencana proyek Perumda Tirta Kanjuruhan. Sayangnya, dialog belum menemukan titik temu. “Warga keberatan karena sebenarnya sudah ada Hipam di Sumber Sirah, jaraknya tak jauh dari Sumber Wadon,” ujarnya di balai desa.

Bahkan menurut Lutfi, beberapa hari sebelumnya Kepala Desa Putukrejo juga dipanggil untuk menghadiri mediasi di kantor Kecamatan Gondanglegi. “Terkait hasil mediasi saya tidak mengetahui karena saya tidak mengikuti kegiatan tersebut,” tukasnya.

Sementara pihak Kepala UPT Tirta Kanjuruhan Gondanglegi masih belum memberikan penjelasan terbuka meskipun sudah dihubungi lewat aplikasi WhatsApp. Di sisi lain, warga Putukrejo berjanji tidak akan berhenti bersuara. Bagi mereka, Sumber Wadon bukan hanya mata air, tetapi juga mata kehidupan yang harus dijaga sampai tetes terakhir. (*)