Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Internasional

Duta Besar Iran Desak DK PBB Kecam Pernyataan Trump di Tengah Protes

×

Duta Besar Iran Desak DK PBB Kecam Pernyataan Trump di Tengah Protes

Sebarkan artikel ini
Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeed Iravani / foto: tangkapan layar

Solusilndonesia.com — Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeed Iravani, melayangkan surat resmi kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres serta Presiden Dewan Keamanan PBB.

Dalam surat tersebut, Iran meminta PBB secara tegas mengecam apa yang disebutnya sebagai ancaman ilegal Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Teheran, di tengah gelombang aksi protes yang masih berlangsung di negara itu, pada Jumat (02/01/2025)

Mengutip dari Al Jazeera, surat tersebut dikirim Beberapa jam setelah Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat berada dalam posisi siap bertindak apabila terjadi lagi kematian demonstran selama unjuk rasa terkait tekanan biaya hidup di Iran. Iravani menilai pernyataan Trump bersifat provokatif dan tidak bertanggung jawab.

Ia menegaskan bahwa sikap tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap Piagam PBB serta prinsip-prinsip hukum internasional. Menurutnya, segala bentuk dorongan atau legitimasi terhadap kerusuhan internal suatu negara dengan dalih tekanan eksternal atau intervensi militer adalah pelanggaran berat atas kedaulatan dan integritas wilayah Republik Islam Iran.

Dalam surat yang dipublikasikan kantor berita resmi IRNA itu, Iran juga menegaskan hak inherennya untuk mempertahankan kedaulatan nasional. Pemerintah menyatakan akan menggunakan hak tersebut secara tegas namun tetap proporsional.

Iravani menambahkan bahwa Amerika Serikat harus bertanggung jawab penuh atas setiap konsekuensi yang timbul akibat ancaman tersebut, termasuk potensi eskalasi ketegangan di kawasan.

Sementara itu, IRNA melaporkan bahwa aksi protes masih berlanjut di sejumlah wilayah pada Jumat. Massa dilaporkan berkumpul di Qom, Marvdasht, Yasuj, Mashhad, dan Hamedan, serta di kawasan Tehranpars dan Khak Sefid di ibu kota Teheran.

Gelombang demonstrasi ini bermula dari aksi mogok para pemilik toko di Teheran sejak Minggu lalu, sebagai respons terhadap melonjaknya harga kebutuhan pokok dan stagnasi ekonomi. Hingga kini, sedikitnya sembilan orang dilaporkan tewas dan 44 lainnya ditangkap. Wakil gubernur Provinsi Qom menyebut satu korban tambahan meninggal akibat ledakan granat yang dipegangnya sendiri, yang diduga bertujuan memicu kerusuhan.

Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyatakan bahwa jika Iran “membunuh demonstran damai secara brutal,” Amerika Serikat akan turun tangan untuk “menyelamatkan mereka.”

Pernyataan tersebut langsung dibalas Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, yang memperingatkan bahwa campur tangan AS hanya akan memicu kekacauan regional dan merusak kepentingan Amerika sendiri.

Krisis ekonomi Iran, termasuk anjloknya nilai mata uang dan inflasi tinggi, diperparah oleh kekeringan berkepanjangan di Teheran, kota berpenduduk sekitar 10 juta jiwa, yang semakin menekan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

Di tengah situasi tersebut, para pemimpin Iran menunjukkan pendekatan yang relatif lebih lunak. Presiden Masoud Pezeshkian secara terbuka mengakui adanya kesalahan pemerintah dan berjanji mencari jalan keluar atas krisis yang terjadi. Sikap ini dinilai pengamat berbeda dibanding respons keras Iran terhadap gelombang protes sebelumnya.

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat juga dibayangi insiden militer terbaru. Pada Juni lalu, AS melancarkan serangan udara terhadap tiga fasilitas nuklir Iran dalam eskalasi konflik selama 12 hari antara Israel dan Iran. Trump menyebut operasi itu sebagai keberhasilan besar.

Pekan lalu, dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Trump kembali mengancam akan menghancurkan Iran jika negara tersebut melanjutkan pengembangan program nuklir atau rudal balistiknya. Pernyataan itu muncul seiring upaya Israel untuk memperluas serangan terhadap Iran.

Menanggapi hal tersebut, Presiden Pezeshkian menegaskan bahwa Iran akan memberikan respons keras terhadap setiap bentuk agresi yang mengancam negaranya.

Image Slide 1