Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Internasional

Ketegangan Memuncak, Iran Siap Perang Lawan AS Jelang Perundingan Nuklir di Oman

×

Ketegangan Memuncak, Iran Siap Perang Lawan AS Jelang Perundingan Nuklir di Oman

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi memanansnya hubungan Iran dan Amerika. Foto: AI

Solusiindonesia.com — Atmosfer geopolitik di Timur Tengah berada di titik nadir. Menjelang perundingan krusial di Oman yang dijadwalkan berlangsung Jumat (6/2/2026), militer Iran melontarkan pernyataan keras yang menegaskan kesiapan mereka untuk konfrontasi bersenjata jika Amerika Serikat memilih opsi militer.

Juru bicara militer Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, menegaskan bahwa Teheran tidak akan mundur selangkah pun. “Jika musuh memilih opsi perang, kami siap untuk skenario apa pun,” tegasnya melalui kantor berita ISNA.
Ancaman Serangan ke Pangkalan AS di Kawasan

Akraminia menyoroti kerentanan posisi Amerika Serikat di Timur Tengah. Menurutnya, jangkauan militer Iran kini mencakup seluruh pangkalan AS, mulai dari wilayah pendudukan hingga Teluk Persia dan Laut Oman.

Ancaman ini bukan gertakan kosong belaka, mengingat Iran baru saja menambah 1.000 unit drone ke dalam jajaran persenjataannya. Strategi Iran jelas: jika perang pecah, skalanya tidak akan terbatas, melainkan mencakup seluruh peta geografis kawasan.

Poin Utama Krisis Iran-AS (Februari 2026)

  • Ultimatum Trump: Presiden Donald Trump memperingatkan konsekuensi buruk jika kesepakatan tidak tercapai, menuntut konsesi nuklir total dari Teheran.
  • Syarat Washington: Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan kesepakatan harus mencakup penghentian program rudal, dukungan terhadap proksi regional, dan isu HAM.
  • Posisi Teheran: Iran hanya bersedia membahas program nuklir dan menuntut pencabutan sanksi ekonomi sebagai syarat utama.
  • Eskalasi Militer: Pasca serangan AS-Israel ke fasilitas nuklir Iran Juni lalu, Teheran terus memperkuat stok rudal balistiknya.

Ketegangan di meja diplomasi diperparah dengan aksi di lapangan. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) baru saja menyita dua kapal tanker minyak asing di perairan Teluk dengan tuduhan penyelundupan bahan bakar.

Di sisi lain, sekutu utama AS, Israel, terus meningkatkan kesiagaan. Kepala Angkatan Udara Israel, Mayor Jenderal Tomer Bar, mengonfirmasi bahwa pasukannya—termasuk unit Iron Dome—berada dalam tingkat kesiapan tertinggi baik untuk bertahan maupun menyerang.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, berupaya menjadi penengah untuk mencegah kekacauan total. Erdogan mendorong adanya pertemuan tingkat tinggi antar-pemimpin negara setelah negosiasi tingkat rendah selesai.

Meskipun Turki sempat diajukan sebagai lokasi pertemuan, Iran lebih memilih Oman. Lokasi ini dianggap sebagai kelanjutan dari saluran diplomasi sebelumnya yang secara spesifik membahas pembatasan program pengayaan uranium.

Situasi saat ini merupakan residu dari ketegangan Juni 2025, di mana AS bergabung dengan Israel dalam serangan udara selama 12 hari ke target-target nuklir Iran. Dengan pengerahan ribuan tentara tambahan dan kapal induk AS ke kawasan baru-baru ini, dunia kini menanti apakah pertemuan di Oman besok akan menjadi pintu perdamaian atau justru pemicu konflik terbuka.