Solusiindonesia.com — Ketegangan geopolitik dunia semakin memanas setelah Korea Utara (Korut) secara resmi melayangkan kecaman keras terhadap serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran. Pyongyang melabeli tindakan Washington tersebut sebagai aksi “gangster” yang melanggar kedaulatan negara.
Melansir laporan KCNA via Al-Jazeera, pemerintah Korea Utara menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan bentuk agresi ilegal. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Korut menyatakan bahwa keterlibatan aktif militer AS dalam operasi ini sudah diprediksi sebelumnya, mengingat karakter AS yang dianggap hegemonik.
Operasi ‘Epic Fury’: Serangan Udara Paling Mematikan dalam Sejarah
Pihak Pentagon menamai agresi militer ini dengan sandi Operasi Epic Fury. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengklaim bahwa operasi tersebut merupakan serangan udara paling presisi dan kompleks yang pernah dilakukan sepanjang sejarah militer dunia.
Menurut Hegseth, tindakan tegas ini diambil karena rezim Teheran dianggap kerap menolak kesepakatan diplomatik dan terus menjadi ancaman bagi warga Amerika selama puluhan tahun.
“Presiden Trump mulai menangani ‘kanker’ ini (rezim Iran). Selama hampir 50 tahun, mereka menargetkan warga AS dan mencari senjata paling mematikan di dunia,” tulis Hegseth melalui platform X.
Dampak Besar: Tewasnya Ayatollah Ali Khamenei
Serangan udara masif ini membawa dampak besar bagi peta politik Timur Tengah. Berikut adalah poin-poin utama dari peristiwa tersebut:
- Gugurnya Pemimpin Tertinggi: Serangan ini dikonfirmasi menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta sejumlah pejabat tinggi lainnya.
- Aksi Balasan Iran: Menanggapi kematian pemimpin mereka, Iran segera melakukan serangan balasan dengan meluncurkan gelombang rudal dan drone ke berbagai pangkalan militer AS di Semenanjung Arab.
- Kondisi Dalam Negeri: Ribuan warga Iran dilaporkan turun ke jalanan untuk berduka atas wafatnya Khamenei.
Reaksi Internasional dan Dampak Global
Selain kecaman dari Korea Utara, dunia internasional kini menyoroti potensi perang terbuka yang lebih luas. Di sisi lain, tokoh seperti Reza Pahlavi (putra Shah terakhir Iran) mulai memberikan pernyataan pasca-runtuhnya kepemimpinan Khamenei.
Spekulasi juga merambah ke dunia olahraga, di mana muncul pertanyaan apakah Tim Nasional Iran akan tetap berpartisipasi atau mengundurkan diri dari ajang Piala Dunia 2026 akibat situasi keamanan yang tidak menentu ini.







