Solusiindonesia.com — Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, mengeluarkan pernyataan keras terkait eskalasi konflik di Timur Tengah. Dalam pertemuan dengan para petinggi teknologi di Gedung Putih, Trump mengeklaim bahwa posisi Amerika Serikat dan Israel saat ini berada di atas angin dalam konfrontasi militer melawan Iran.
Trump menegaskan bahwa operasi militer yang sedang berlangsung telah melumpuhkan struktur kepemimpinan di Teheran. Menurutnya, siapa pun yang mencoba mengisi kekosongan kursi kekuasaan pasca-tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akan menghadapi nasib serupa.
Dalam pernyataannya yang blak-blakan, Trump memberikan penilaian yang sangat tinggi terhadap efektivitas serangan AS dan sekutunya.
“Jika ditanya dalam skala satu sampai sepuluh, saya akan menilai posisi kita di angka 15,” ujar Trump merujuk pada keunggulan strategis di medan tempur.
Ia menambahkan bahwa kekuatan rudal balistik Iran kini sedang dalam proses penghancuran sistematis. Trump juga kembali menegaskan alasan utama di balik serangan agresif ini: mencegah Iran memiliki senjata nuklir. “Dunia menjadi sangat berbahaya ketika ‘orang gila’ memegang kendali atas senjata nuklir,” tambahnya.
Di sisi lain, suasana duka menyelimuti Teheran. Pemerintah Iran mengumumkan masa berkabung nasional dan prosesi pemakaman kenegaraan selama tiga hari untuk mendiang Ayatollah Ali Khamenei.
Berdasarkan laporan dari kantor berita IRNA, Dewan Koordinasi Pembangunan Islam Iran telah membuka akses bagi warga untuk memberikan penghormatan terakhir.
- Lokasi: Masjid Agung Imam Khomeini, Teheran.
- Waktu: Dimulai Rabu malam, pukul 22.00 waktu setempat.
Kematian Khamenei yang diakibatkan oleh serangan gabungan AS dan Israel ini menandai titik balik paling kritis dalam geopolitik Timur Tengah selama beberapa dekade terakhir.
Meskipun Trump menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi, dukungan internasional tidak sepenuhnya bulat. Spanyol baru-baru ini membantah klaim AS mengenai kesepakatan kerja sama operasi militer di kawasan tersebut. Sementara itu, Prancis melalui perintah Presiden Macron telah mengerahkan kapal induk ke Timur Tengah, menunjukkan kesiapan untuk menjaga kepentingan mereka sendiri di tengah ketidakpastian global.





