Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Internasional

Situsasi Timur Tengah Memanas, Australia Perintahkan Diplomat Tinggalkan Israel dan UEA

×

Situsasi Timur Tengah Memanas, Australia Perintahkan Diplomat Tinggalkan Israel dan UEA

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi bendera Australia. Foto: Freepik

Solusiindinesia.com — Pemerintah Australia secara resmi memerintahkan seluruh staf diplomatik non-esensial yang berada di Israel dan Uni Emirat Arab (UEA) untuk segera angkat kaki. Keputusan evakuasi ini diambil menyusul situasi keamanan yang kian memburuk akibat eskalasi perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, menegaskan bahwa perintah ini merupakan langkah antisipasi terhadap risiko keselamatan para pejabat negara. Dalam pernyataan resminya pada Jumat (13/3/2026), Wong menjelaskan bahwa memburuknya situasi keamanan di kawasan Timur Tengah menjadi alasan utama di balik keputusan mendadak tersebut.

Meski demikian, Australia tidak sepenuhnya mengosongkan kantor perwakilannya. Pemerintah memastikan bahwa sejumlah pejabat esensial tetap disiagakan di lokasi. Keberadaan mereka sangat krusial untuk memberikan dukungan dan perlindungan konsuler bagi warga negara Australia yang masih membutuhkan bantuan darurat di tengah konflik.

Selain instruksi bagi staf diplomatik, Penny Wong juga mengeluarkan peringatan keras bagi warga sipil Australia yang berada di kawasan tersebut. Ia mendesak seluruh warganya untuk segera meninggalkan Timur Tengah selagi jalur transportasi masih tersedia dan situasi masih memungkinkan untuk melakukan perjalanan dengan aman.

Wong mengingatkan agar warga tidak menunda keberangkatan karena kondisi di lapangan bisa berubah sewaktu-waktu. Menurutnya, saat ini mungkin menjadi kesempatan terakhir bagi warga untuk keluar sebelum akses keluar-masuk kawasan semakin sulit akibat perang yang terus berkecamuk.

Data terbaru menunjukkan ada sekitar 115.000 warga Australia yang berada di kawasan Timur Tengah saat ini. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 2.600 orang yang telah berhasil kembali ke Australia. Situasi ini terus dipantau ketat oleh Canberra, terutama setelah Garda Revolusi Iran mengonfirmasi adanya serangan terhadap sejumlah pangkalan AS di kawasan tersebut.