Solusiindonesia.com — Puluhan ribu orang memadati Jembatan Pelabuhan Sydney, Australia, Minggu, (03/08/2025)
dalam aksi solidaritas untuk rakyat Palestina pada akhir pekan. Massa menuntut perdamaian dan segera dibukanya jalur bantuan kemanusiaan ke Gaza, yang masih dilanda konflik serta krisis kelaparan akibat blokade berkepanjangan oleh Israel.
Dalam kondisi cuaca yang tidak bersahabat hujan deras disertai angin kencang massa pro-Palestina tetap melanjutkan aksi dengan penuh semangat. Dikutip dari Al Jazeera, Senin, (04/08/2025)
Mereka meneriakkan slogan-slogan seperti “Gencatan Senjata Sekarang” dan “Bebaskan Palestina”.
Sebagian peserta bahkan membawa peralatan dapur seperti panci dan wajan sebagai simbol kelaparan ekstrem yang sedang terjadi di Gaza. Aksi ini disebut penyelenggara sebagai Pawai untuk Kemanusiaan.
Demonstrasi besar ini berlangsung hanya beberapa hari setelah Australia bersama lebih dari selusin negara lainnya menyatakan terbuka atau mempertimbangkan secara positif pengakuan terhadap negara Palestina sebagai bagian dari langkah menuju penyelesaian dua negara.
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah negara seperti Prancis, Inggris, dan Kanada telah menyuarakan niat untuk mengakui Palestina secara diplomatik, sebagai respons terhadap meningkatnya kekhawatiran global terkait kondisi kelaparan di Gaza.
Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan bahwa setidaknya 175 orang, termasuk 93 anak-anak, telah meninggal dunia akibat kelaparan dan malnutrisi sejak Israel melancarkan serangan ke Gaza usai peristiwa pada Oktober 2023 yang dipicu oleh aksi kelompok Hamas di Israel selatan.
Meskipun Australia telah menyerukan agar konflik segera dihentikan, hingga kini pemerintah belum menetapkan sikap resmi untuk mengakui Palestina sebagai negara berdaulat.
Kepolisian setempat memperkirakan jumlah peserta mencapai 90.000 orang. Namun, penyelenggara, Palestine Action Group Sydney, menyebutkan dalam unggahan Facebook mereka bahwa peserta bisa mencapai 300.000 orang.
Aksi damai ini diikuti oleh beragam kalangan dari orang lanjut usia, keluarga dengan anak-anak, hingga tokoh publik seperti pendiri WikiLeaks, Julian Assange, yang hadir namun tidak memberikan komentar kepada media maupun peserta.







