Solusiindonesia.com — Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kembali menyerukan penghentian kekerasan di Jalur Gaza dan mengecam tindakan militer Israel yang dinilainya menyebabkan penderitaan luar biasa terhadap warga sipil. Dalam pernyataan usai rapat kabinet pada Senin (11/8/2025),
Erdogan menuding Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memanfaatkan konflik demi kepentingan politik domestik.
“Kami tidak akan membiarkan Netanyahu dan jaringan pembantaiannya menyeret kawasan kami ke dalam bencana yang lebih besar hanya untuk memperpanjang masa jabatan politik mereka,” ungkap Erdogan
Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran Turki atas eskalasi kekerasan yang terus berlangsung sejak meletusnya konflik antara Hamas dan Israel pada Oktober 2023. Erdogan mengklaim bahwa Israel bertindak sebagai ancaman regional dan menyebut tindakan militer yang dilakukan di Gaza sebagai bentuk kebiadaban dan penindasan.
Pemerintah Turki menyatakan telah melakukan berbagai upaya untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan ke wilayah Gaza, di tengah blokade dan keterbatasan akses yang kian parah.
Erdogan menegaskan bahwa bantuan kemanusiaan adalah prioritas, terutama bagi warga sipil yang menurut laporan internasional kini berada dalam kondisi darurat.
“Kami melakukan segala upaya yang diperlukan untuk menghentikan kekejaman di Gaza dan mengirimkan bantuan tanpa hambatan kepada saudara-saudari kami yang berada di ambang kelaparan,” tegasnya.
Ketegangan di Gaza meningkat tajam sejak serangan Hamas terhadap wilayah Israel pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang, menurut data otoritas Israel.
Sebagai respons, Israel melancarkan operasi militer besar-besaran yang hingga kini diklaim telah menewaskan lebih dari 61.000 warga Gaza, berdasarkan data otoritas kesehatan Palestina. Sebagian besar wilayah Gaza kini dilaporkan hancur dan layanan dasar seperti listrik, air, serta fasilitas kesehatan lumpuh total.
Turki di bawah kepemimpinan Erdogan terus memainkan peran aktif dalam isu Palestina, baik melalui forum Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) maupun berbagai saluran diplomasi internasional. Sikap vokal Erdogan juga kerap mendapat sorotan karena menempatkan Ankara sebagai salah satu pengkritik paling keras terhadap kebijakan Israel, terutama yang menyangkut Gaza.
Meskipun demikian, sejumlah pengamat menilai bahwa retorika keras harus diiringi dengan langkah konkret melalui jalur diplomasi multilateral untuk mendorong gencatan senjata jangka panjang dan akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.






