Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Internasional

Momen Netanyahu di PBB: Antara Diplomasi dan Tekanan Internasional

×

Momen Netanyahu di PBB: Antara Diplomasi dan Tekanan Internasional

Sebarkan artikel ini
Benjamin Netanyahu saat menyampaikan pidatonya di Gedung PBB / foto: instagram

Solusiindonesia.com — Dihadapkan pada gelombang kritik dan aksi protes di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato penuh tantangan kepada para pemimpin dunia pada Jumat. (26/09/2025)

mengutip dari AP News, Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Israel “harus menyelesaikan misi” melawan Hamas di Gaza, meskipun semakin terisolasi akibat penolakannya menghentikan perang yang telah menimbulkan kehancuran besar.

“Sebagian pemimpin Barat mungkin mundur di bawah tekanan, Namun satu hal yang pasti: Israel tidak akan menyerah.” ujarnya

Pidato tersebut ditujukan baik kepada publik Israel yang kian terbelah maupun komunitas internasional. Momen itu diawali dengan aksi walk out puluhan delegasi dari berbagai negara saat Netanyahu mulai berbicara di Majelis Umum PBB.

Menanggapi gelombang pengakuan negara-negara terhadap Palestina, Netanyahu menuding keputusan tersebut sebagai “langkah memalukan” yang justru akan memicu aksi teror terhadap orang Yahudi dan warga sipil di seluruh dunia.

Suasana pidato berlangsung tegang: teriakan protes terdengar samar di dalam aula, sementara sejumlah pendukung di galeri memberikan tepuk tangan meriah.

Kursi Amerika Serikat dan Inggris hanya diisi oleh diplomat junior, bukan pejabat senior. Banyak kursi lainnya kosong, sementara di dekat kursi Iran terpajang foto-foto anak-anak yang disebut Teheran sebagai korban perang Israel pada Juni lalu.

Netanyahu kini menghadapi tekanan global yang semakin berat, tuduhan kejahatan perang, serta dorongan internasional untuk segera menghentikan konflik.

Namun, ia memanfaatkan forum PBB sebagai panggung untuk membela kebijakan militernya, menggambarkan Gaza sebagai benteng terakhir dalam perang yang lebih luas, sekaligus menegaskan target membasmi “sisa-sisa Hamas.”

Seperti kebiasaannya, ia menggunakan alat bantu visual: sebuah peta bertuliskan “KUTUK” untuk menandai ancaman di kawasan, serta pin dengan kode QR yang menautkan ke situs tentang serangan Hamas 7 Oktober 2023 dan para sandera Israel.

Bahkan pemerintah Israel mengklaim menyiarkan pidato tersebut langsung ke Gaza melalui pengeras suara dan ponsel yang disita, meskipun tidak ada bukti nyata yang terlihat.

Reaksi warga Palestina bercampur antara kelelahan dan tekad. “Cepat atau lambat, Palestina akan merdeka,” kata Moneir Talib, pengungsi dari Kota Gaza. Lainnya, Amjad Abdel Daiym, mengaku pasrah: “Ketika dia bicara ingin membasmi Hamas, yang kami rasakan hanya perang yang terus menghantam rakyat kecil.”

Hamas pun mengecam Netanyahu, menuduhnya sekadar membuat alasan palsu untuk melanjutkan perang. Mereka menyatakan, jika benar peduli pada sandera, Netanyahu seharusnya menghentikan pemboman brutal dan penghancuran di Gaza.

Pidato tahunan Netanyahu di PBB memang selalu menuai sorotan, tetapi kali ini tekanannya lebih besar. Sejumlah negara, termasuk Australia, Kanada, Prancis, dan Inggris, telah mengakui Palestina.

Uni Eropa tengah mempertimbangkan sanksi terhadap Israel, sementara Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Di luar gedung PBB, ratusan demonstran pro-Palestina menyerukan kecaman. “Israel telah memilih berperang melawan nurani kemanusiaan,” seru Nidaa Lafi, salah satu penggerak Gerakan Pemuda Palestina.

Namun, dukungan juga datang. UN Watch menilai pidato Netanyahu memiliki dua sisi: tekad melawan terorisme sekaligus menawarkan visi perdamaian dengan negara-negara tetangga Arab, bahkan dengan Iran yang merdeka di masa depan.

Sementara itu, serangan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 65.000 orang dan memaksa 90% warganya mengungsi. Lebih dari 150 negara kini mengakui Palestina, namun Amerika Serikat masih mendukung Israel dengan garis merah: Presiden Donald Trump menegaskan tidak akan mengizinkan pencaplokan Tepi Barat.

Netanyahu dan Trump dijadwalkan bertemu Senin mendatang, di tengah “negosiasi intensif” yang menurut Trump bisa membuka jalan baru bagi Gaza dan kawasan sekitarnya.