Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Internasional

Rencana Perdamaian Trump di Gaza, Hamas Siapkan Jawaban dalam Waktu Dekat

×

Rencana Perdamaian Trump di Gaza, Hamas Siapkan Jawaban dalam Waktu Dekat

Sebarkan artikel ini
kondisi Gaza / foto: tangkapan layar x

Solusiindonesia.com — Seorang pejabat senior Hamas menegaskan bahwa kelompok tersebut akan segera memberikan tanggapan terkait usulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai penghentian perang di Gaza yang telah berlangsung hampir dua tahun.

Mengutip dari Al Jazeera, Anggota biro politik Hamas, Mohammed Nazzal, mengatakan bahwa pihaknya saat ini sedang mempelajari rencana Trump dengan tujuan menghentikan agresi Israel. Pada Kamis (02/10/2025)

Ia menambahkan bahwa dalam waktu dekat Hamas akan menyampaikan sikap resminya terhadap proposal tersebut.

Menurut Nazzal, Hamas sebagai bagian dari perlawanan Palestina memiliki kewenangan untuk menyuarakan pandangan “dengan cara yang melayani kepentingan” rakyatnya.

Ia juga menekankan, “Kita tidak berurusan [dengan rencana] ini dengan logika bahwa waktu adalah pedang yang diarahkan ke leher kita.”

Sebelumnya, Gedung Putih merilis dokumen berisi 20 poin yang di antaranya mencakup seruan gencatan senjata segera, pertukaran tawanan Hamas dengan tahanan politik Palestina yang ditahan Israel, penarikan bertahap pasukan Israel dari Gaza, pelucutan senjata Hamas, serta pembentukan pemerintahan transisi di bawah otoritas internasional.

Trump memberikan tenggat waktu tiga hingga empat hari kepada Hamas untuk memberikan keputusan. Namun, banyak warga Palestina yang menilai rencana tersebut cenderung menguntungkan Israel meski mereka sangat berharap perang berakhir. Selasa (29/09/2025)

Dalam sejumlah perundingan sebelumnya, Hamas menuntut agar Israel angkat kaki sepenuhnya dari Jalur Gaza, menekankan perlunya gencatan senjata permanen, serta menuntut jaminan bahwa keluarga-keluarga pengungsi dapat kembali ke rumah mereka, terutama di wilayah utara Gaza yang menjadi sasaran utama serangan Israel.

Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Mesir mengungkapkan bahwa pihaknya bersama Qatar dan Turki tengah melakukan pendekatan untuk membujuk Hamas menerima tawaran Trump.

Dalam pidatonya di Institut Hubungan Internasional Prancis, Paris, Badr Abdelatty menegaskan bahwa Hamas harus melucuti senjata dan Israel tidak boleh diberi alasan untuk melanjutkan serangannya.

Ia menyampaikan, “Jangan beri satu pihak pun alasan untuk menjadikan Hamas sebagai dalih atas pembunuhan warga sipil yang gila-gilaan ini setiap hari. Apa yang terjadi sudah jauh melampaui tanggal 7 Oktober.”

Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa serangan Israel telah menewaskan lebih dari 66.000 orang, mayoritas perempuan dan anak-anak. Para pakar bahkan meyakini angka sebenarnya bisa mencapai tiga kali lipat dari data resmi.

Abdelatty menambahkan, “Ini bukan lagi balas dendam. Ini adalah pembersihan etnis dan genosida yang sedang berlangsung. Jadi, sudah cukup.”

Sementara itu, Gedung Putih menyatakan bahwa Trump optimis Hamas akan menerima proposalnya. Pemerintah AS juga mengingatkan bahwa presiden dapat memberikan konsekuensi jika kelompok tersebut menolak.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan dalam wawancara dengan Fox News: “Itu adalah garis merah yang harus ditetapkan oleh Presiden Amerika Serikat, dan saya yakin dia akan melakukannya.”

Image Slide 1