Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Malang Raya

Menilik Toleransi di Malang: Gereja Buka Pintu dan Sesuaikan Jadwal Ibadah, Jamu Jemaah Mujahadah Kubro Harlah 1 Abad NU

×

Menilik Toleransi di Malang: Gereja Buka Pintu dan Sesuaikan Jadwal Ibadah, Jamu Jemaah Mujahadah Kubro Harlah 1 Abad NU

Sebarkan artikel ini
Walikota Malang Wahyu Hidayat memastikan persiapan Harlah NU di Kota Malang. Foto: Instagram

Solusiindonesia.com — Semangat moderasi beragama terpancar kuat di Kota Malang menjelang puncak peringatan Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU). Sejumlah gereja di sekitar Stadion Gajayana memutuskan untuk membuka pintu lebar-lebar bagi para jemaah Mujahadah Kubro yang berlangsung pada 7-8 Februari 2026.

Tak sekadar menyediakan tempat, gereja-gereja tersebut bahkan rela memangkas jadwal ibadah rutin mereka demi memberikan ruang istirahat yang layak bagi ribuan nahdliyin yang datang dari berbagai daerah.

HKBP Malang: “Kami Adalah Sahabat”
Pendeta Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Malang, Melva Sitompul, menegaskan bahwa aksi ini adalah bentuk persaudaraan sejati sebagai sesama warga bangsa. Pihaknya telah menyiapkan area gereja, mulai dari lantai dasar hingga bangunan baru, untuk menampung ratusan peserta.

“Kami membuka pintu gereja sebagai tempat istirahat sementara. Kursi-kursi sudah kami siapkan untuk kapasitas sekitar 300 orang, bahkan ada lokasi tambahan jika diperlukan,” ujar Melva, Sabtu (7/2/2026).

Selain fasilitas fisik seperti toilet dan ruang istirahat, HKBP Malang juga menyediakan logistik berupa air mineral dan makanan ringan. Guna memaksimalkan pelayanan bagi tamu, HKBP melakukan penyesuaian jadwal ibadah yang signifikan:

  • Jadwal Normal: Empat sesi ibadah (pagi hingga sore).
  • Jadwal Khusus (Harlah NU): Hanya dilaksanakan dua kali pada pukul 15.00 dan 17.00 WIB.

Katedral Ijen Tiadakan Ibadah Pagi
Dukungan serupa mengalir dari Gereja Katedral Ijen. Uskup Keuskupan Malang, Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan, menyampaikan bahwa pihaknya menyambut momentum bersejarah ini dengan penuh sukacita.

“Ini adalah event besar, dan dengan senang hati kami bekerja sama. Dua sesi ibadah pada Sabtu sore dan dua ibadah Minggu pagi ditiadakan,” jelas Mgr. Pidyarto.

Selain menyediakan fasilitas sanitasi dan tempat istirahat, Katedral Ijen juga memfungsikan layar videotron mereka untuk mendukung kelancaran acara. Hal ini dilakukan agar para jemaah yang tidak masuk ke area utama stadion tetap bisa memantau jalannya kegiatan.

Estimasi Massa dan Dampak Sosial
Hingga Jumat (6/2), data menunjukkan lebih dari 104 ribu jemaah terkonfirmasi akan memadati kawasan Stadion Gajayana. Tingginya antusiasme ini menjadikan peran lembaga lintas agama sangat krusial dalam menjaga kenyamanan dan kondusivitas kota.

Aksi toleransi ini membuktikan bahwa di Kota Malang, perbedaan keyakinan bukan penghalang untuk saling menjaga. Bagi para pemuka agama di Malang, membantu kelancaran Harlah 1 Abad NU adalah tanggung jawab moral sekaligus bukti nyata bahwa persaudaraan kebangsaan tetap teguh di atas segalanya.