Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Malang Raya

Tukang Ledeng Bongkar Proyek Sumur Bor Gagal di Pagak: Kapasitas Minim, Tak Layak Jadi Sumber Utama

×

Tukang Ledeng Bongkar Proyek Sumur Bor Gagal di Pagak: Kapasitas Minim, Tak Layak Jadi Sumber Utama

Sebarkan artikel ini
proyek pembangunan sumur bor di Desa Pagak (foto istimewa).

Solusiindonesia.com – Informasi mengejutkan kembali disampaikan oleh sumber internal Perumda Tirta Kanjuruhan yang menyebut dirinya “tukang ledeng”. Kali ini, sorotan diarahkan pada proyek pembangunan sumur bor di Desa Pagak, Kecamatan Pagak, yang dinilai gagal secara teknis dan perencanaan. Proyek bernilai Rp440 juta lebih ini diduga dikerjakan tanpa kajian memadai terhadap kapasitas sumber air dan efektivitas pengoperasian.

Proyek tersebut dilaksanakan oleh CV Mahameru, sebagaimana tercantum dalam Surat Pengumuman Pemenang Tender Nomor: 020.1/2/SPPT/ULP/35.07.402/2018, tertanggal 28 April 2018. Namun, hasil akhir proyek ini menuai kritik keras karena debit air yang dihasilkan hanya 5 liter per detik, dengan kemampuan operasi terbatas dan tidak efisien secara ekonomi.

Berdasarkan laporan teknis internal, sumur bor tersebut hanya mampu mengalirkan air 5 liter/detik selama 5 menit, kemudian harus istirahat selama 60 menit sebelum bisa beroperasi kembali. Artinya, setiap 65 menit, hanya 1.500 liter (1,5 m³) air yang dapat diproduksi. Dalam satu hari penuh (24 jam), sumur hanya mampu beroperasi dalam 22 siklus, menghasilkan total sekitar 33 m³ air per hari.

Dengan asumsi rata-rata konsumsi rumah tangga 0,3 m³/hari, maka sumur tersebut hanya dapat melayani sekitar 110 pelanggan, itupun dalam kondisi ideal tanpa kebocoran dan distribusi sempurna.

Analisis finansial sederhana menunjukkan bahwa proyek ini sangat tidak layak secara ekonomis. Dengan tarif air rata-rata Rp3.500 per m³, maka pendapatan maksimal hanya Rp115.500 per hari atau Rp3,4 juta per bulan. Sebaliknya, biaya operasional harian yang mencakup listrik pompa, pemeliharaan, dan tenaga kerja, bisa mencapai Rp2–3 juta per bulan, bahkan lebih.

Belum termasuk biaya investasi awal, instalasi pompa, pipa distribusi, hingga sistem kontrol. Secara sederhana, pendapatan bersih sangat kecil atau bahkan negatif, dan menjadi beban keuangan bagi perusahaan jika tetap dioperasikan sebagai sumber utama.

Kritik paling tajam tertuju pada dugaan bahwa proyek ini dikerjakan dengan minim survei dan kajian geologi, atau bahkan asal-asalan dalam menentukan titik pengeboran. Padahal, dalam proyek infrastruktur air bersih, ketepatan pemilihan titik sumber merupakan faktor krusial keberhasilan.

“Kalau debitnya hanya segitu, ini lebih cocok jadi sumur cadangan atau air untuk taman, bukan untuk pelanggan rumah tangga,” ujar sumber internal yang kecewa atas hasil proyek tersebut. Sabtu (19/7/2025).

Sejumlah opsi disarankan sebagai solusi perbaikan:

  • Evaluasi ulang teknis sumur, termasuk kedalaman dan formasi batuan air.
  • Gabungkan sumber ini dengan jaringan distribusi yang lebih besar sebagai cadangan.
  • Alihfungsi untuk kebutuhan non-konsumsi, seperti penyiraman jalan atau ruang terbuka hijau.
  • Stop operasional reguler, jika hasil evaluasi membuktikan tidak ekonomis.

Dengan debit yang sangat terbatas, waktu operasi tidak efisien, serta potensi kerugian secara finansial, sumur bor Pagak dinilai gagal berfungsi sebagaimana tujuan awalnya. Proyek ini menjadi pengingat pentingnya kajian teknis yang mendalam, transparansi proses tender, serta prioritas penggunaan anggaran perusahaan demi efisiensi dan pelayanan publik yang tepat sasaran.

Catatan Redaksi: Hingga berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak manajemen Perumda Tirta Kanjuruhan maupun instansi terkait.