SolusiIndonesia.com — Ngaji Budaya bersama Kyai Ahans Mahabi SS., MA dan Santunan Yatim Dhuafa digelar di halaman Darmo Kepuh Gang 9 Kecamatan Sukun Kota Malang Sabtu, (19/07/2025).
Suasana halaman Darmo Kepuh Gang 9 menjadi sangat estetik. Sorotan lighting dengan dekorasi Jawa mendominasi hingga blangkon sebagai salah satu ciri budaya Jawa, tampak banyak dipakai.
Ratusan jemaah duduk berjejer sementara disisi pojok kiri tampak puluhan anak kecil dengan baju putih penuh asa karena akan menerima santunan tak beberapa lama lagi. Sementara diatas stage sudah tertata dengan rapi alat musik tradisional gamelan lengkap dengan wayang kulitnya.
MC membuka acara dengan berdoa bersama, dan menyanyikan Indonesia Raya.
Ketua Panitia David , yang juga mewakili pengasuh Darmo Kepuh Gus Arif Setiawan mengatakan bahwa kegiatan ini adalah menjaga tradisi leluhur yang mewariskan ragam budaya, sehingga melestarikan budaya, berarti pandai berterimakasih.
“Metode dakwah dengan budaya itu sudah di contohkan oleh para wali Songo, ini adalah bagian cara kita melestarikannya,” ungkap David.
“Dan doakan semoga Darmo Kepuh ngaji budaya II kembali digelar di tahun mendatang,” pungkas Davit.
Sementara itu, Walikota Malang yang diwakili oleh Kabag Kesra H. Ahmad Soleh S.Psi sangat mengapresiasi kegiatan budaya yang digelar oleh Darma Kepuh tersebut.
“Saya atas nama pemerintah kota Malang sangat mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ngaji budaya semacam ini. Ini sangat positif, karena bisa membangun mental bangsa untuk melestarikan budaya, menjaga budaya dan mengembangkan budaya,” ungkap Soleh.
“Ingat, bangsa yang besar mencintai, merawat dan menjalankan budaya,” imbuh Soleh.
Lebih lanjut Sholeh berharap, bahwa kegiatan positif konstruktif seperti ngaji budaya tersebut terus ditingkatkan sehingga masyarakat bisa lebih mengenal dan mencintai kebudayaan.
“Saya berharap kegiatan seperti ini terus ditingkatkan sehingga banyak masyarakat yang lebih mencintai budaya,” pungkas Soleh.
Kyai Ahans Mahabi membuka pengajian dengan monolog bedol Kayon sebagai tanda syukur lewat visual wayang kulit, diiringi dengan dentuman gamelan dan suasana menjadi syahdu saat menceritakan tentang kematian.
Interaksi Kyai Ahans dengan jemaah membuat suasana ngaji budaya semakin meriah. Tak ada jarak antara pembicara dengan pendengar. Tak ada yang merasa menceramahi dan diceramahi, semuanya menyatu dalam lautan cinta karena Ilahi.
Kyai muda pengasuh pondok pesantren Hanacaraka di Kabupaten Wonogiri itu membawakan beberapa tembang ciptaannya sendiri seperti lagu Wali Songo, dan tembang mocopat yang menjadi inti materi dalam pagelaran ngaji budaya tersebut. Semua jemaah ikut larut dalam syair dan sesekali mereka juga terlibat dalam suara tembang-tembang itu.
Pengajian ditutup dengan materi hakikat cinta yang membuat para jemaah terbuai dalam haru mengenang perjuangan seorang ibu yang telah mengandung, melahirkan dan merawat hingga dewasa.
Saat kyai Ahan pamit untuk turun panggung, teriakan ” lanjut- lanjut”,dari para jemaah, alumni UIN Malang itu dengan bijaksana menuruti permintaan jemaah dengan tembang penutup yang membuat para audiens hanyut dalam kebahagiaan dan kegembiraan.
” InsyaAllah lain waktu bisa digelar lagi kegiatan ini geh,” pungkas Kyai Ahans Mahabi







