Solusiindonesia.com – Upaya menggali lebih dalam dinamika sosial, teknologi, dan inovasi di balik salah satu komoditas strategis Indonesia kembali dilakukan. Tim peneliti yang dipimpin oleh Arif Subekti, berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menuntaskan penelitian intensif selama 12 hari di Perkebunan Teh Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Penelitian yang berlangsung pada 10–22 Juni 2025 ini berfokus pada Analisis Jaringan Sosial (Social Network Analysis/SNA) untuk memetakan peran, interaksi, serta pengaruh para aktor kunci dalam ekosistem perkebunan teh — mulai dari pekerja, pengelola, hingga pemangku kebijakan.
Salah satu momen berharga dalam penelitian tersebut adalah ketika tim berhasil menemukan dua narasumber sepuh, Mbah Lasmo dan Mbah Paidi, mantan pekerja yang menjadi saksi hidup perjalanan panjang perkebunan teh Wonosari.
Kisah mereka membuka tabir sejarah tentang kehidupan sosial dan pola kerja di masa lalu, sekaligus memperkaya data historis mengenai proses difusi teknologi di sektor teh.
“Kami biasanya mulai bekerja sejak pukul lima pagi,” kenang Mbah Lasmo. “Sebelum memetik daun teh, semua pekerja dikumpulkan oleh mandor untuk briefing harian. Yang paling berkesan, kami selalu menyanyikan Indonesia Raya sebelum turun ke kebun. Itu membuat kami semangat dan merasa bagian dari sesuatu yang besar.”
Cerita tersebut memberikan gambaran kuat tentang bagaimana disiplin, nasionalisme, dan solidaritas sosial menjadi bagian dari kultur kerja di perkebunan.
Dalam laporan awal studi yang disusun oleh Reninta, Nora, dan Rofi, dijelaskan bahwa riset ini berangkat dari pandangan bahwa perkebunan teh bukan sekadar sektor ekonomi, melainkan ruang sosial yang kompleks dan dinamis.
“Perkebunan teh di Indonesia memegang peran strategis dalam perekonomian nasional, dengan kontribusi signifikan terhadap PDB dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Sistem produksi teh merupakan sistem sosial-ekonomi yang terintegrasi, melibatkan banyak pemangku kepentingan — mulai dari petani hingga pemerintah,” tulis mereka.
Melalui pendekatan Social Network Analysis, tim berupaya memetakan struktur kekuasaan, pola kolaborasi, hingga potensi ketimpangan dalam jaringan sosial di balik produksi teh. Hasil studi ini diharapkan mampu memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan kebijakan inovasi yang lebih inklusif dan berkeadilan di sektor perkebunan.
Lebih dari sekadar penelitian lapangan, studi ini juga menjadi upaya memahami relasi antara inovasi dan kemanusiaan. Di tengah geliat teknologi dan perubahan ekonomi, pengalaman para pekerja seperti Mbah Lasmo dan Mbah Paidi menjadi pengingat bahwa setiap inovasi selalu berakar pada nilai-nilai sosial, gotong royong, dan identitas lokal yang kuat. (*)








