Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Malang Raya

Menjaga Kota di Musim Hujan: Sinergi Lintas Instansi Menata Kesiapsiagaan Nataru

×

Menjaga Kota di Musim Hujan: Sinergi Lintas Instansi Menata Kesiapsiagaan Nataru

Sebarkan artikel ini
Jelang pelaksanaan Operasi Lilin Semeru 2025, Polresta Malang Kota menggelar Rakor Kesiapsiagaan Bencana sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi cuaca ekstrem (foto istimewa).

Solusiindonesia.com – Di tengah langit Desember yang mulai sering mendung, Kota Malang kembali menata diri menghadapi musim penghujan yang tak menentu. Setiap tahun, perayaan Natal dan Tahun Baru selalu membawa lonjakan aktivitas masyarakat, tetapi kali ini ada satu hal yang membuat kewaspadaan meningkat: potensi cuaca ekstrem yang diprediksi berlangsung hingga awal tahun.
Di Aula Sanika Satyawada Polresta Malang Kota, puluhan perwakilan instansi berkumpul pada Selasa (9/12).

Suasananya bukan sekadar resmi, tetapi terasa seperti ruang bersama tempat semua pihak menyatukan kepedulian yang sama: menjaga warga tetap aman.

Kompol Agung Fitransyah menjadi salah satu yang paling menonjol dalam forum itu. Dengan suara mantap, ia menyampaikan pesan Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Nanang Haryono bahwa kesiapsiagaan bukan hanya soal prosedur, tetapi soal tanggung jawab kemanusiaan.

“Mitigasi harus dilakukan sejak dini, terintegrasi, dan melibatkan semua pihak,” ujarnya. Kalimat itu seolah mencerminkan denyut penyelenggaraan Rakor hari itu—bahwa keselamatan warga tidak boleh menunggu bencana datang.

Dalam pemaparan Polresta, tergambar jelas peta kerentanan Kota Malang. Empat titik rawan banjir tersebut adalah kawasan Galunggung, Letjen Sutoyo, Letjen S. Parman, dan Soekarno-Hatta kembali menjadi sorotan, begitu pula empat titik rawan pohon tumbang yang tersebar di Veteran, Danau Jonge, Ki Ageng Gribig, dan Mayjend Sungkono. Setiap titik memiliki cerita, setiap titik menyimpan kerentanan yang menuntut kesiapan ekstra.

Harapan besar juga hadir melalui rencana pendirian dua Posko Terpadu Tanggap Bencana di Jembatan UB dan Ruko Ciliwung. Posko itu kelak menjadi ruang koordinasi cepat, tempat tim lintas instansi saling bahu-membahu saat situasi darurat terjadi. Ada peralatan tanggap bencana, tenaga terlatih, dan yang paling penting: komitmen untuk bergerak bersama.

Di sisi lain, BMKG membawa kabar yang harus dipahami masyarakat: La Niña dan Dipole Mode sedang bekerja di balik layar cuaca, memicu hujan dengan intensitas yang tak jarang melampaui normal. Sementara BPBD mengingatkan, “Keselamatan masyarakat tidak bisa ditawar. Kolaborasi menjadi kunci.”

Tak hanya bencana alam, aspek kesehatan juga menjadi perhatian. Dinas Kesehatan menyiagakan lima rumah sakit rujukan, layanan darurat 119, hingga tim reaksi cepat di setiap kecamatan. Menjelang Nataru, keramaian bukan hanya soal jalan yang penuh, tetapi juga potensi meningkatnya kedaruratan medis.

PLN pun bergerak. Dengan 14 posko, ratusan personel, hingga sistem pemantauan cuaca WOFI, mereka memastikan listrik tetap menyala—karena pada masa bencana, energi bukan sekadar fasilitas, tetapi kebutuhan hidup. Dinas Lingkungan Hidup ikut menguatkan barisan dengan kesiapan armada untuk menangani pohon tumbang.

Setiap instansi membawa peran, setiap peran menambah lapis perlindungan. Rakor ini bukan sekadar rapat; ia adalah mosaik komitmen.

Pada akhirnya, pesan yang ingin dibangun Polresta Malang Kota mengalir jelas: Kota Malang sedang bersiap. Bersiap untuk banjir, untuk angin kencang, untuk keramaian Nataru, dan untuk segala kemungkinan yang mungkin muncul. Tetapi lebih dari itu, kota ini bersiap dengan sebuah kekuatan yang sudah lama menjadi karakter Malang—gotong royong lintas sektor.

“Sinergi adalah kunci,” harap Kompol Agung, menutup pertemuan. Dan di luar aula, mendung kembali menggantung pelan, seolah menunggu bagaimana kesiapsiagaan itu diuji di hari-hari mendatang. (*)

Image Slide 1