Solusiindonesia.com – Di balik gemerlap lampu dan tepuk tangan yang memenuhi ballroom Suites Hotel Surabaya, Sabtu malam, 13 Desember 2025, satu nama bergema sebagai pemenang. Novia Syahfitri Hidayasa, kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) asal Kota Mojokerto, melangkah mantap menuju panggung kehormatan dan resmi menyandang mahkota Miss Jawa Timur 2025 kategori Dewasa.
Kemenangan itu bukan sekadar soal kecantikan dan busana. Ia adalah hasil dari proses panjang, disiplin, dan ketekunan yang ditempa melalui berbagai pengalaman—mulai dari dunia organisasi mahasiswa hingga panggung advokasi perempuan.
Ajang Grand Final Miss Jawa Timur 2025 sendiri berlangsung ketat. Puluhan finalis terbaik dari berbagai daerah di Jawa Timur bersaing menunjukkan kapasitas, karakter, dan gagasan. Director Miss Jawa Timur, Putra Anta, menyebutkan bahwa kompetisi tahun ini terbagi dalam tiga kategori utama.
“Pemenang kategori Cilik diraih Sabrina Michaela dari Surabaya, kategori Remaja oleh Andrea Sheva dari Surabaya, dan kategori Dewasa oleh Novia Syahfitri Hidayasa dari Kota Mojokerto,” ujar Putra Anta, Jumat (19/12/2025).
Bagi Novia, mahkota itu bukan hadiah instan. Seluruh finalis harus melewati tahapan pra-karantina hingga karantina intensif sebelum mencapai malam puncak. Di fase pra-karantina, para peserta dibekali berbagai materi dasar, mulai dari public speaking, catwalk, hingga pembentukan sikap dan etika.
“Kami tidak hanya dilatih tampil, tetapi juga belajar bagaimana bersikap dan menyampaikan gagasan dengan baik,” tutur Novia.
Memasuki masa karantina pada 12 Desember 2025, agenda semakin padat. Para finalis menjalani pelatihan kepribadian, pengembangan diri, pendalaman advokasi, hingga simulasi panggung. Semua proses itu menjadi bekal penting saat mereka berdiri di hadapan dewan juri pada malam grand final.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika seleksi mengerucut ke babak Top Five dan kemudian Top Three. Di babak Top Five, setiap finalis diwajibkan menyampaikan pidato bertema “Perempuan Berkarya di Jawa Timur”. Di momen inilah Novia menegaskan sikap dan visinya.
“Advokasi utama saya adalah bagaimana perempuan bisa memberi dampak nyata bagi masyarakat melalui pendidikan,” tegasnya. Ia meyakini pendidikan sebagai fondasi utama, meski ke depan juga berkomitmen bergerak di bidang sosial, budaya, dan pariwisata secara bertahap.
Di luar panggung, Novia dikenal sebagai sosok mahasiswa yang aktif dan konsisten. Selama menempuh pendidikan Sastra Jerman di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), ia terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi, kepanitiaan, hingga kerja-kerja kerelawanan. Jejak pengalamannya terbentang dari relawan pendidikan, orator aksi peringatan International Women’s Day, Sekolah Pergerakan FIP UNY, hingga jurnalis pers mahasiswa.
Namun, satu ruang yang paling membentuknya adalah GMNI. Bagi Novia, berproses di organisasi ini menjadi fase krusial dalam membangun integritas dan ketajaman berpikir.
“GMNI bukan hanya organisasi, tapi ruang belajar untuk memahami realitas sosial,” katanya. Di sana, ia belajar tentang kemandirian atau berdikari, mengasah empati, serta melatih kemampuan berpikir kritis dan strategis dalam membedah persoalan-persoalan kompleks.
Setiap keputusan, menurut Novia, harus berangkat dari analisis objektif dan bermuara pada solusi yang memberi dampak positif bagi lingkungan sekitar. Prinsip itulah yang kini ia bawa ke panggung yang lebih luas.
Mahkota Miss Jawa Timur 2025 bagi Novia bukan garis akhir, melainkan titik awal. Sebuah amanah untuk terus berkarya, bersuara, dan menghadirkan perubahan—dengan pendidikan sebagai pijakan utama dan nilai-nilai perjuangan sebagai kompas langkahnya.








