Solusiindonesia.com – Pagi itu, Senin (29/12/2025), suasana di depan Ballroom Sanika Satyawada terasa berbeda. Deretan pejabat berseragam cokelat berdiri rapi, sementara kamera para jurnalis mengarah ke satu titik. Di sanalah Polresta Malang Kota menutup lembaran 2025 dengan sebuah refleksi: sejauh mana rasa aman berhasil dijaga di tengah dinamika kota pendidikan yang terus bergerak.
Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Nanang Haryono tampil bersama Wakapolresta dan jajaran pejabat utama. Dengan nada tenang namun tegas, ia memulai paparan rilis akhir tahun—bukan sekadar deretan angka, melainkan potret perjalanan keamanan Kota Malang selama setahun penuh.
Data demi data disampaikan. Sepanjang 2025, gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat tercatat sebanyak 2.364 kejadian. Angka itu menurun tajam dibandingkan tahun sebelumnya. “Penurunannya mencapai lebih dari 40 persen,” ujar Nanang. Sebuah capaian yang mencerminkan kerja senyap aparat di balik rutinitas kota.
Di balik angka tersebut, tersimpan kisah tentang berbagai tindak kejahatan yang berhasil ditekan. Kasus kriminal menurun hampir separuh. Kejahatan konvensional, transnasional, hingga pelanggaran ringan, satu per satu dirangkum sebagai bagian dari upaya menjaga ruang hidup warga tetap aman.
Namun, 2025 juga diwarnai sejumlah peristiwa yang sempat mengguncang perasaan publik. Ada kasus pencabulan yang viral di awal tahun, pencurian kendaraan bermotor yang menyita perhatian warganet, hingga perampokan terhadap pengemudi ojek online di kawasan Bandulan. Semua itu, menurut Kapolresta, menjadi ujian bagi kesigapan jajaran Satreskrim.
“Beberapa kasus besar berhasil kami ungkap dalam hitungan jam, bahkan kurang dari satu hari,” katanya. Salah satunya pembunuhan di sebuah losmen di kawasan Sukun, yang pelakunya berhasil diamankan sebelum 24 jam berlalu. Ada pula kasus penculikan anak yang terungkap kurang dari empat jam—sebuah kerja cepat yang menyelamatkan masa depan seorang bocah.
Menjelang akhir tahun, aparat kembali diuji oleh dua kasus pembunuhan yang terjadi hampir berdekatan. Satu melibatkan mahasiswa pendatang, satu lagi terjadi di rumah kontrakan di Jalan Ikan Gurami. Dua peristiwa itu menegaskan bahwa kewaspadaan tidak pernah boleh kendur, meski statistik menunjukkan tren penurunan.
Di sisi lain, perang melawan narkoba justru menunjukkan eskalasi. Satresnarkoba Polresta Malang Kota mengungkap lebih banyak kasus dibandingkan tahun sebelumnya. Dari pil dobel L hingga ganja dan sabu dalam jumlah besar, barang bukti yang dipamerkan seolah menjadi pengingat tentang ancaman laten yang mengintai generasi muda.
“Kalau diuangkan, nilainya miliaran rupiah. Tapi yang lebih penting, ada puluhan ribu jiwa yang berhasil kita selamatkan,” tutur Nanang, menekankan bahwa penindakan narkoba bukan semata soal angka, melainkan soal masa depan.
Kabar baik juga datang dari jalan raya. Angka kecelakaan lalu lintas menurun, begitu pula korban meninggal dunia yang turun drastis. Bagi polisi lalu lintas, ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti tumbuhnya kesadaran warga saat berkendara di kota yang semakin padat.
Sementara itu, di sudut-sudut kota, Sat Samapta bekerja dengan caranya sendiri. Penindakan tindak pidana ringan, patroli dialogis, hingga penertiban pelaku mabuk-mabukan dilakukan demi menjaga kenyamanan ruang publik—pekerjaan yang sering luput dari sorotan, namun dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Menutup rilis akhir tahun, Kapolresta Malang Kota tak hanya menyampaikan laporan, tetapi juga harapan. Ia mengajak masyarakat untuk terus berjalan beriringan dengan aparat kepolisian.
“Keamanan bukan hanya tugas polisi. Ini kerja bersama,” ucapnya.
Di penghujung 2025, catatan Polresta Malang Kota menyiratkan satu pesan sederhana: rasa aman tak lahir dalam sehari. Ia dibangun dari kerja konsisten, kewaspadaan tanpa jeda, dan kepercayaan antara aparat dan warga. Sebuah ikhtiar yang terus dijaga, agar Kota Malang tetap menjadi rumah yang damai bagi semua.








