Solusiindonesia.com — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membeberkan faktor penyebab angin kencang yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Timur, terutama Malang, dalam beberapa hari terakhir.
Fenomena cuaca tersebut dipicu oleh kombinasi dinamika atmosfer regional dan global yang saat ini sedang aktif di wilayah Indonesia.
Staf Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Maksum Purwanto, menjelaskan bahwa angin kencang dipengaruhi oleh aktifnya monsun Asia yang diperkuat oleh pola pertemuan angin atau konvergensi. Kondisi ini turut didukung oleh gangguan atmosfer Equatorial Rossby serta potensi gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) yang tengah melintasi Jawa Timur.
“Selain itu, suhu muka laut di perairan Selat Madura yang masih cukup signifikan serta kondisi atmosfer lokal yang labil turut mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang,” ujar Maksum, Sabtu (24/1/2026).
Ia menambahkan, BMKG juga mendeteksi keberadaan bibit siklon tropis 91S di wilayah selatan yang berdampak pada meningkatnya kecepatan angin di Jawa Timur.
“Berdasarkan analisis angin gradien pada ketinggian 3.000 feet tanggal 19 Januari 2026 pukul 12.00 WIB, angin dominan bertiup dari arah barat dengan kecepatan mencapai 32 knot dan membentuk pola konvergensi,” ungkapnya.
Seiring kondisi tersebut, BMKG Juanda mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem dan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan pada periode 21 hingga 30 Januari 2026. Ancaman yang perlu diantisipasi meliputi hujan sedang hingga lebat, banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es.
Wilayah yang berpotensi terdampak mencakup Kabupaten Banyuwangi, Bondowoso, Jember, Magetan, Mojokerto, Blitar, Bojonegoro, Jombang, Kediri, Lumajang, Malang, Nganjuk, Ngawi, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Situbondo, Tuban, Tulungagung, Lamongan, Madiun, Sidoarjo, Bangkalan, Gresik, Pamekasan, Sumenep, Trenggalek, dan Pacitan. Selain itu, sejumlah wilayah perkotaan seperti Kota Malang, Surabaya, Batu, Kediri, Mojokerto, Probolinggo, Blitar, dan Madiun juga berpotensi terdampak.
Maksum menegaskan bahwa saat ini seluruh wilayah Jawa Timur telah memasuki musim hujan, bahkan sebagian daerah telah berada pada fase puncak musim hujan. Secara umum, puncak musim hujan di Jawa Timur diprakirakan berlangsung pada Januari hingga Februari 2026, meskipun beberapa wilayah telah mengalaminya sejak Oktober hingga Desember 2025.
“Dalam 10 hari ke depan, potensi cuaca ekstrem diprakirakan meningkat dan dapat berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat,” jelasnya.
BMKG Juanda pun mengingatkan masyarakat serta instansi terkait agar terus waspada terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi secara mendadak.
“Wilayah dengan topografi curam, bergunung, atau bertebing diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko banjir, tanah longsor, banjir bandang, pohon tumbang, jalan licin, hingga berkurangnya jarak pandang,” pungkasnya.








