Solusiindonesia.com — Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) resmi merilis dokumen terbaru terkait mendiang Jeffrey Epstein pada akhir Januari 2026. Dalam berkas tersebut, terungkap detail kesehatan pribadi sang predator seksual, mulai dari diagnosis Penyakit Menular Seksual (PMS) hingga gangguan hormon kronis yang ia derita selama belasan tahun.
Dokumen medis ini memberikan gambaran mendalam mengenai kondisi fisik Epstein sebelum ia ditemukan tewas di sel penjaranya pada 2019 silam.
Salh satu poin paling mencolok dalam laporan medis tersebut adalah hasil tes darah tahun 2016 yang dilakukan oleh dr.
Hay Lombard di New York. Epstein dinyatakan positif mengidap gonore, yang dalam catatan medis ditulis dengan kode GC (Gonococcus).
Tak hanya itu, Epstein secara mandiri mencatat kondisi kesehatannya dalam sebuah korespondensi yang mencakup:
- Infeksi Menular Seksual (IMS): Keberadaan bakteri gonococcus pada sampel air mani.
- Parasit: Ditemukannya cacing cambuk (parasitic roundworm) dan histolytica dalam sistem tubuhnya.
- Masalah Kandung Kemih: Riwayat polip kandung kemih dan adanya bercak darah dalam urine (hematuria).
Untuk mengatasi infeksi tersebut, Epstein diketahui mengonsumsi kombinasi antibiotik dosis tinggi, yakni 1 gram ceftriaxone dan 2 gram azithromycin.
Perjuangan dengan Kadar Testosteron Rendah
Selain masalah infeksi, Epstein juga mengeluhkan kondisi hormonal yang buruk. Dalam email yang dikirimkan kepada dr. Bruce Moskowitz pada April 2015, ia mengaku telah berjuang melawan kadar testosteron rendah selama lebih dari satu dekade.
“Kadar testosteron rendah saya sudah ada selama 15 tahun. Menurut pandangan saya, ini sudah berdampak pada saya,” tulis Epstein dalam pesan tersebut.
Data medis menunjukkan kadar testosteronnya berada di angka 125 ng/dL, jauh di bawah rentang normal pria dewasa. Kondisi ini ia klaim berdampak pada pola tidur yang berantakan dan berkurangnya aliran urine, meskipun ia mengaku menjalani gaya hidup tanpa rokok, alkohol, maupun narkoba.
Rilisnya dokumen ini merupakan bagian dari transparansi hukum yang dilakukan DOJ terkait kasus-kasus besar yang melibatkan figur publik. Meskipun Epstein telah meninggal, detail medis ini menjadi potongan teka-teki baru bagi para penyelidik dan publik dalam memahami gaya hidup dan kondisi fisik pria yang terlibat dalam jaringan perdagangan seks internasional tersebut.





