Solusiindonesia.com — Pemerintah Amerika Serikat melalui akun resmi Gedung Putih memicu gelombang kontroversi setelah mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan Presiden Donald Trump dalam kostum Superman. Unggahan yang dirilis pada Jumat (11/7) waktu setempat itu disertai keterangan, “The symbol of hope. Truth. Justice. The American way. Superman Trump.”
Reaksi publik muncul secara masif dan beragam. Sementara sebagian pendukung menganggap gambar tersebut sebagai simbol kepemimpinan yang kuat, mayoritas warganet justru mengecam dan menyindir keras unggahan itu. Kritik mengarah pada upaya pemanfaatan tokoh fiksi untuk membentuk citra politik yang dinilai manipulatif. Tak sedikit pula yang mengaitkan unggahan tersebut dengan kontroversi masa lalu, termasuk skandal Jeffrey Epstein. “Dan dokumen Epstein adalah kryptonitenya,” tulis salah satu komentar yang menjadi viral di media sosial.
Sorotan juga datang dari berbagai media internasional, terutama karena unggahan itu bertepatan dengan peluncuran film terbaru Superman karya sutradara James Gunn. Pemanfaatan ikon budaya populer dalam ranah politik, ditambah dengan penggunaan teknologi AI yang makin menyerupai kenyataan, dinilai menimbulkan kekhawatiran etis. Para pakar komunikasi politik memperingatkan bahwa penyebaran citra semacam ini dapat memperburuk kaburnya batas antara realitas dan fiksi dalam wacana publik.
Mantan pemeran Superman, Dean Cain, turut menanggapi unggahan itu dengan menyematkan emoji tertawa, yang kemudian ikut memanaskan diskusi daring. Namun hingga kini, Gedung Putih belum memberikan keterangan resmi mengenai maksud dan tujuan unggahan tersebut.
Sebelumnya, Trump juga beberapa kali muncul dalam visual AI lainnya, termasuk sebagai Paus dan sebagai karakter Star Wars yang memegang lightsaber. Tren ini menimbulkan kekhawatiran akan normalisasi pencitraan politik berbasis teknologi buatan yang bisa memengaruhi opini publik secara tidak langsung. (*)





