Solusiindonesia.com — Di bawah langit malam Kota Malang yang dingin, Stadion Gajayana berubah menjadi “lautan doa”. Minggu dini hari (8/2/2026), ribuan pasang mata terpejam khusyuk, larut dalam getaran spiritual perayaan Mujahadah Kubro 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU).
Bukan sekadar seremonial, momentum pergantian abad ini ditandai dengan sebuah laku batin yang mendalam, Sholat Malam berjamaah dan pemberian ijazah amalan suci.
Mengetuk Pintu Langit di Sepertiga Malam
Suasana khidmat mulai memuncak saat KH Abdul Matin Djawahir, Wakil Rais PWNU Jawa Timur sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Bejagung Tuban, naik ke atas mimbar. Sebelum memimpin sholat malam dan sholat hajat, Kiai Matin memberikan pesan menyentuh tentang pentingnya menyandarkan harapan hanya kepada Allah SWT.
Beliau mengajak para jamaah menjadikan 1 Abad NU sebagai ruang perenungan kolektif. “Ini adalah tempat menyandarkan harapan bagi pribadi, organisasi (jam’iyah), dan masa depan umat,” tuturnya lembut namun bertenaga.
Ijazah Shalawat Badawi Kubro: Menyambung Sanad ke Hadratussyekh
Puncak dari prosesi spiritual malam itu adalah pemberian Ijazah Shalawat Badawi Kubro. Dalam tradisi pesantren, ijazahan bukan sekadar pemberian teks doa, melainkan transfer keberkahan dan legalitas spiritual yang menjaga kemurnian ajaran.
Ada hal istimewa yang membuat bulu kuduk jamaah merinding. Kiai Matin mengungkapkan bahwa sanad (garis silsilah) shalawat ini memiliki jalur langsung ke pendiri NU.
“Sanad Shalawat Badawi Kubro ini saya dapatkan langsung dari santrinya Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari,” ungkap Kiai Matin yang disambut gumam takzim ribuan jamaah.
Shalawat karya Sayyid Ahmad Badawi al-Husaini ini sebenarnya sudah sangat akrab di telinga warga Nahdliyin. Namun, menerimanya secara langsung di momentum satu abad dengan sanad yang bersambung ke Mbah Hasyim memberikan bobot historis dan emosional yang tak ternilai.
Simbol Kesinambungan Tradisi di Abad Kedua
Pemberian ijazah ini menegaskan bahwa meskipun zaman berubah, NU tetap teguh memegang prinsip sanad keilmuan yang jelas. Stadion Gajayana menjadi saksi bagaimana tradisi intelektual dan spiritualitas Islam Nusantara tetap relevan di era modern.
Melalui lantunan Shalawat Badawi Kubro yang menggema dari tribun hingga lapangan, NU seolah mengirim pesan kepada dunia: mereka siap memasuki abad kedua dengan semangat menjaga nilai keislaman, kebangsaan, dan pengabdian tanpa henti kepada umat.
Malam itu, Malang bukan sekadar kota bola, melainkan pusat gravitasi spiritual yang mengukuhkan tekad Nahdlatul Ulama untuk terus “Digdaya” di masa depan.







