Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Editorial

Editorial: Runtuhnya Jangkar Global dan Preposisi Ketahanan Nasional

×

Editorial: Runtuhnya Jangkar Global dan Preposisi Ketahanan Nasional

Sebarkan artikel ini

Solusiindonesia.com — Intervensi terbuka Amerika Serikat terhadap Venezuela di bawah komando Donald Trump bukan sekadar riak baru dalam dinamika Amerika Latin. Ini adalah lonceng kematian bagi tatanan global yang selama ini rapuh. Di tengah luka yang belum mengering akibat aneksasi di Ukraina, krisis kemanusiaan di Gaza, serta fragmentasi AS-Tiongkok, agresi ini menjadi katalisator bagi “gempa geopolitik” yang mampu meruntuhkan arsitektur keamanan dunia.

Aksi unilateral Washington menegaskan sebuah realitas pahit: hukum internasional kini bersifat opsional bagi negara hegemon. Prinsip non-intervention dan kedaulatan negara—dua pilar utama Piagam PBB—tampak sekadar menjadi jargon usang. Dunia sedang menyaksikan transisi berbahaya dari Rule-of-Law (supremasi hukum) menuju Rule-of-Power (supremasi kekuatan).

Lumpuhnya Dewan Keamanan PBB akibat kebuntuan veto dan polarisasi blok memperparah kondisi ini. Ketika kekerasan mulai dinormalisasi sebagai instrumen diplomasi, kita tidak lagi bicara soal ketidakstabilan, melainkan anarki internasional yang terstruktur.

Bagi negara-negara berkembang di Global South (Asia, Afrika, dan Amerika Latin), serangan ini adalah alarm keras. Tidak ada jaminan keamanan absolut dalam sistem multipolar yang tidak stabil. Situasi ini diprediksi akan memicu:

  • Re-aliansi Global: Menguatnya blok-blok tandingan yang didorong oleh rasa curiga kolektif terhadap unilateralisme Barat.
  • Disrupsi Ekonomi: Volatilitas harga energi global, gangguan rantai pasok (supply chain), dan guncangan pasar keuangan yang akan menghantam negara importir energi.
  • Premanisme Geopolitik: Risiko munculnya preseden di mana kepentingan energi dan ideologi dapat menghalalkan segala cara di wilayah lain.
    Implikasi bagi Indonesia: Navigasi di Tengah Turbulensi

Indonesia, sebagai kekuatan menengah (middle power), berada dalam posisi rentan terhadap gelombang kejut ini. Kebijakan luar negeri “bebas aktif” tidak lagi cukup hanya dengan retorika normatif. Jakarta membutuhkan strategi pragmatis dan konkret:

  • Resiliensi Energi & Pangan: Percepatan kemandirian domestik untuk mereduksi dampak fluktuasi komoditas global.
  • Diversifikasi Mitra Strategis: Memperluas jejaring perdagangan agar tidak terjebak dalam ketergantungan pada satu blok ekonomi.
  • Kepemimpinan Diplomatik: Menegaskan posisi di forum multilateral (seperti G20 dan ASEAN) untuk menolak normalisasi pelanggaran hukum internasional.

Dunia sedang bergeser tanpa arah yang pasti. Bagi Indonesia, memperkuat fondasi domestik dan kecermatan membaca peta global adalah harga mati. Bersiap bukan berarti memilih pihak dalam konflik, melainkan membangun benteng agar bangsa ini tetap tegak berdiri saat tatanan dunia babak belur oleh kepentingan sepihak. (*)

.

Image Slide 1