Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Gaya Hidup

Ayah Farel Prayoga Buka Suara: Bantah Foya-foya dan Ungkap Kondisi Aset Sang Anak

×

Ayah Farel Prayoga Buka Suara: Bantah Foya-foya dan Ungkap Kondisi Aset Sang Anak

Sebarkan artikel ini
Farel Prayoga. Foto: Instagram

Solusiindonesia.com — Ayah dari penyanyi cilik fenomenal Farel Prayoga, Joko Suyoto, akhirnya memberikan klarifikasi tegas terkait tuduhan miring yang menerpa keluarganya. Joko membantah keras tudingan yang menyebut dirinya menghabiskan harta kekayaan sang anak demi gaya hidup mewah.

Ditemui di Bareskrim Polri pada Rabu (14/1/2026), Joko membeberkan fakta mengejutkan mengenai kondisi finansial dan aset milik pelantun “Ojo Dibandingke” tersebut yang ternyata tidak segelimang harta seperti yang dibayangkan publik.

Fakta Aset Farel Prayoga: Tak Ada Mobil Mewah
Meski nama Farel Prayoga sudah dikenal di seantero negeri, Joko menegaskan bahwa harta yang dimiliki remaja berusia 16 tahun itu masih sangat terbatas. Ia menepis rumor adanya aset senilai miliaran rupiah.
“Kalau mobil tidak ada. Rumah ada di kampung. Kemarin sempat ada (aset), tapi belum sempat lunas sudah dijual lagi.

Tanah juga dijual oleh Farel sendiri bersama manajernya. Sisanya hanya tanah-tanah kosong,” ungkap Joko.
Bahkan di Jakarta, yang menjadi pusat aktivitas karier Farel, mereka diketahui belum memiliki hunian tetap. Aset kendaraan yang dimiliki di Ibu Kota pun tergolong sederhana.

“Di Jakarta belum punya apa-apa. Adanya motor, hanya motor,” tegasnya untuk mematahkan asumsi publik soal kemewahan.

Menepis Tudingan Eksploitasi Anak
Selain soal finansial, Joko Suyoto juga bereaksi keras terhadap label “eksploitasi anak” yang disematkan kepadanya. Baginya, perjalanan Farel hingga mencapai titik sukses sekarang adalah hasil perjuangan panjang dari bawah.

Joko mengenang kembali masa-masa sulit saat ia dan Farel harus mengamen di jalanan demi menyambung hidup. Menurutnya, aktivitas tersebut adalah hal yang wajar bagi masyarakat di kampung dalam upaya bertahan hidup.

“Mungkin kalau tidak saya ajak ngamen, tidak mungkin jadi seperti ini. Namanya kehidupan di kampung, ngamen itu wajar. Orang-orang yang berkomentar negatif mungkin tidak tahu fakta sebenarnya di lapangan,” tutup Joko.