Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Internasional

Banjir Terjang Kamp Pengungsian Gaza, Seorang Anak Dilaporkan Tewas

×

Banjir Terjang Kamp Pengungsian Gaza, Seorang Anak Dilaporkan Tewas

Sebarkan artikel ini
Kondisi tenda pengungsian di Gaza / foto: tangkapan layar x

Solusiindonesia.com — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan seorang anak laki-laki Palestina tewas tenggelam akibat banjir yang melanda kamp tenda pengungsian di Jalur Gaza. Pada Kamis (01/01/2025)

Insiden tragis itu menjadi gambaran terbaru dampak musim dingin yang memperparah penderitaan warga Gaza, yang sebagian besar kehilangan tempat tinggal akibat kehancuran selama dua tahun konflik bersenjata.

Dikutip dari AP News, video yang beredar menunjukkan tim penyelamat berupaya mengevakuasi jasad korban dari genangan air berlumpur di tengah reruntuhan bangunan.

Anak tersebut ditemukan tidak bernyawa setelah air hujan deras membanjiri area tempat tinggal darurat keluarganya.

UNICEF mengidentifikasi korban sebagai Ata Mai, bocah berusia tujuh tahun yang tinggal di sebuah kamp berisi sekitar 40 tenda di Kota Gaza bersama saudara-saudaranya. Keluarga tersebut diketahui telah kehilangan ibu mereka pada awal perang.

UNICEF menyebut kematian Ata sebagai bagian dari meningkatnya korban anak akibat cuaca ekstrem, banjir, dan kondisi tempat tinggal yang tidak layak.
Dalam beberapa pekan terakhir, hujan musim dingin disertai angin kencang terus melanda Gaza, menyebabkan tenda-tenda roboh, jalanan berubah menjadi lumpur, serta bangunan rusak runtuh.

UNICEF mencatat sedikitnya enam anak telah meninggal dunia akibat faktor cuaca, termasuk satu anak berusia empat tahun yang tewas tertimpa bangunan runtuh. Kementerian Kesehatan Gaza juga melaporkan tiga anak meninggal akibat hipotermia.

Sementara itu, petugas kesehatan melaporkan kematian seorang bocah laki-laki berusia sembilan tahun lainnya, Youssef Shandaghi, di wilayah Jabaliya, Gaza utara. Penyebab kematiannya masih simpang siur, dengan pihak rumah sakit menyebut tembakan Israel sebagai penyebab, sementara keluarga korban menduga ia tewas akibat amunisi yang belum meledak.

Di Tepi Barat, ketegangan juga meningkat setelah pasukan Israel dilaporkan melakukan penangkapan besar-besaran terhadap sekitar 50 warga Palestina. Organisasi Tahanan Palestina menyebut operasi tersebut disertai penggerebekan rumah, kekerasan terhadap tahanan, serta perusakan properti. Militer Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait laporan tersebut.

Meski gencatan senjata selama 12 minggu antara Israel dan Hamas telah mengurangi serangan udara besar-besaran, situasi kemanusiaan di Gaza masih memburuk. Warga Palestina dilaporkan terus tewas hampir setiap hari, sementara akses terhadap tempat tinggal layak, layanan kesehatan, dan perlindungan dasar masih sangat terbatas.

Image Slide 1