Solusiindonesia.com — Sebuah operasi militer tingkat tinggi bersandi khusus dilaporkan telah berhasil mengamankan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Pemimpin Amerika Selatan tersebut dikabarkan ditangkap oleh unit elite Delta Force Amerika Serikat pada Sabtu pagi (3/1/2026) waktu setempat.
Kabar mengenai infiltrasi pasukan khusus ini mencuat setelah Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi melalui platform media sosialnya bahwa Maduro dan istrinya telah “diekstraksi” dari Venezuela.
Meski detail taktis mengenai unit yang terlibat belum dirilis secara resmi oleh Pentagon, berbagai pengamat militer meyakini bahwa 1st SFOD-D (Delta Force) adalah aktor utama di balik serangan presisi ini.
Penangkapan Target Bernilai Tinggi (HVT)
Berdasarkan keterangan yang dihimpun, penangkapan ini berkaitan dengan dakwaan kasus narkoterorisme yang menjerat Maduro di pengadilan AS sejak tahun 2020.
“Amerika Serikat telah melancarkan serangan skala besar yang sukses terhadap kepemimpinan Venezuela,” tegas Trump. Maduro kini dilaporkan tengah dalam perjalanan menuju wilayah hukum Amerika Serikat untuk menghadapi persidangan.
Profil Delta Force: Ujung Tombak Operasi Khusus AS
Bagi publik militer, keterlibatan Delta Force dalam misi berisiko tinggi di wilayah urban seperti Caracas bukanlah hal mengejutkan. Berikut adalah fakta mengenai unit yang dikenal sebagai “The Unit” tersebut:
1. Spesialis Kontra-Terorisme dan Aksi Langsung
Delta Force, atau secara resmi disebut 1st Special Forces Operational Detachment-Delta, merupakan unit Tier 1 di bawah kendali Joint Special Operations Command (JSOC). Fungsi utamanya adalah melakukan Direct Action (aksi langsung) untuk menetralisir atau menangkap High Value Targets (HVT) di lingkungan yang paling berbahaya sekalipun.
2. Sinergi dengan Komunitas Intelijen
Dalam setiap pergerakannya, Delta Force kerap beroperasi di bawah payung kerahasiaan tinggi dan bekerja sama erat dengan CIA. Selain operasi penangkapan, mereka memiliki kapabilitas dalam penyelamatan sandera dan pengintaian teknis yang sulit dideteksi oleh radar konvensional.
3. Standar Rekrutmen yang Ekstrem
Menjadi seorang operator Delta, atau yang sering dijuluki sebagai “D-Boy,” menuntut ketahanan fisik dan psikologis di atas rata-rata. Mayoritas personelnya direkrut dari Resimen Ranger ke-75 dan Green Berets.
- Kursus Penyaringan: Fokus pada navigasi darat mandiri di medan ekstrem.
- Keahlian Khusus: Penguasaan Close Quarters Battle (CQB) dan kemahiran menembak tingkat lanjut (advanced marksmanship).
4. Jejak Sejarah: Dari Iran hingga Al-Baghdadi
Dibentuk pada tahun 1977 oleh Kolonel Charles Beckwith, unit ini lahir dari kebutuhan akan pasukan khusus yang mampu menangani ancaman asimetris. Delta Force tercatat sukses memimpin operasi yang menewaskan pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi, pada tahun 2019.
Struktur Organisasi dan Taktik Modular
Delta Force diorganisir ke dalam Sabre Squadrons, yang dibagi menjadi tim penyerang (Assault) dan tim pengintai (Reconnaissance). Struktur modular ini memungkinkan pengiriman unit kecil dengan mobilitas tinggi secara global untuk merespons ancaman yang sensitif terhadap waktu (time-sensitive targets).
Kini, dunia menunggu respons diplomatik dan stabilitas keamanan di Venezuela pasca-ekstraksi Maduro. Pemerintah Venezuela sendiri dilaporkan telah menetapkan status darurat dan mengerahkan kekuatan militer penuh sebagai reaksi atas operasi tersebut.








