Solusiindonesia.com — Angin kencang musim dingin meruntuhkan tenda-tenda pengungsi di Gaza, yang menewaskan sedikitnya empat orang, kata pihak rumah sakit pada Selasa (13/1/2026).
Kondisi hidup yang berbahaya masih berlanjut setelah lebih dari dua tahun perang dan kekurangan bantuan, meski gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober.
Mengutip Laporan AP News, menurut Rumah Sakit Shifa, rumah sakit terbesar di Kota Gaza, korban tewas termasuk dua wanita, seorang gadis, dan seorang pria.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan seorang bocah laki-laki berusia 1 tahun meninggal karena hipotermia semalam, sementara juru bicara UNICEF, James Elder, menyatakan lebih dari 100 anak dan remaja telah tewas akibat operasi militer sejak gencatan senjata.
Selain itu, militer Israel mengatakan terjadi baku tembak pada Selasa(13/01) di Gaza selatan, menewaskan sedikitnya dua orang di Rafah bagian barat.
Tiga anggota keluarga Mohamed Hamouda (72 tahun), cucunya (15 tahun), dan menantunya tewas ketika tembok setinggi 8 meter runtuh menimpa tenda mereka di pesisir Kota Gaza, dengan lima orang lainnya terluka. Kerabat mereka mulai menyingkirkan puing dan membangun kembali tenda-tenda penampungan.
Seorang wanita lain tewas ketika tembok roboh menimpa tendanya di bagian barat kota. Ratusan tenda dan tempat penampungan darurat mengalami kerusakan atau diterbangkan angin, menurut kantor kemanusiaan PBB.
Sebagian besar warga Palestina tinggal di tenda-tenda darurat karena rumah mereka hancur. Petugas penyelamat memperingatkan agar tidak berlindung di bangunan yang rusak karena rawan runtuh. PBB dan mitranya mendistribusikan tenda, terpal, selimut, pakaian, serta barang nutrisi dan kebersihan.
Kementerian Kesehatan Gaza juga melaporkan bayi berusia 1 tahun di Deir al-Balah sebagai korban jiwa ketujuh akibat kondisi cuaca dingin, dengan korban lain termasuk bayi berusia tujuh hari dan seorang gadis 4 tahun. Sejak gencatan senjata, lebih dari 440 warga tewas akibat tembakan Israel, sementara ratusan anak terluka.
“Meskipun pemboman dan penembakan telah melambat, namun belum berhenti. Apa yang sekarang disebut dunia sebagai ketenangan akan dianggap sebagai krisis di tempat lain,” kata James Elder dalam pengarahan PBB.
Penduduk Gaza yang lebih dari 2 juta orang harus menghadapi musim dingin ketiga sejak perang Israel-Hamas dimulai 7 Oktober 2023, sementara perumahan sementara dan bantuan kemanusiaan sangat terbatas. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 71.400 warga Palestina tewas dalam serangan balasan Israel.








