Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Internasional

Situasi Keamanan Gaza Memanas di Tengah Kesepakatan Gencatan Senjata

×

Situasi Keamanan Gaza Memanas di Tengah Kesepakatan Gencatan Senjata

Sebarkan artikel ini
kondisi di Gaza / foto: tangkapan layar X

Solusiindonesia.com — Militer Israel kembali melancarkan serangan ke sejumlah wilayah di Jalur Gaza yang berada di luar kendali militernya secara langsung, meskipun kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat telah disepakati pada Oktober lalu.

Setidaknya tiga warga Palestina dilaporkan tewas dalam serangan terpisah yang terjadi di Khan Younis pada Minggu (04/01/2025),

Mengutip dari Al Jazeera, sumber medis menyebutkan korban terdiri dari seorang anak laki-laki berusia 15 tahun, seorang nelayan, serta seorang pria lainnya yang ditembak di wilayah timur Khan Younis.

Sementara itu, di wilayah tengah Gaza, tembakan pasukan Israel dilaporkan melukai sejumlah warga di area timur kamp pengungsi Bureij.

Di Gaza City bagian utara, pasukan Israel terus melakukan penghancuran terhadap rumah-rumah warga dan infrastruktur sipil di kawasan Tuffah, yang sebagian besar telah mengalami kerusakan parah sejak sebelumnya.

Militer Israel mengonfirmasi operasi penghancuran tambahan di Gaza utara. Namun, mereka mengklaim sasaran serangan adalah “infrastruktur teroris di atas dan di bawah tanah”, termasuk jaringan terowongan di wilayah Beit Lahiya.

Serangan juga dilaporkan terjadi melalui penggunaan drone Israel yang menjatuhkan bahan peledak ke sejumlah rumah di Gaza timur. Selain itu, tembakan artileri menghantam kawasan Shujayea dan Zeitoun di Gaza City, yang selama lebih dari dua tahun konflik telah berulang kali menjadi sasaran serangan.

Berdasarkan data terbaru Kementerian Kesehatan Gaza, jumlah korban tewas warga Palestina sejak perang dimulai pada Oktober 2023 mencapai sedikitnya 71.386 orang, dengan 171.264 lainnya mengalami luka-luka. Dari jumlah tersebut, sedikitnya 420 orang dilaporkan tewas sejak kesepakatan gencatan senjata ditandatangani kurang dari tiga bulan lalu.

Di sisi lain, militer Israel masih membatasi masuknya sebagian besar bantuan kemanusiaan internasional yang menumpuk di perbatasan Gaza. Pembatasan ini dilakukan meskipun Israel menyatakan tidak terjadi kekurangan bantuan, klaim yang bertolak belakang dengan laporan dan kesaksian Perserikatan Bangsa-Bangsa serta organisasi kemanusiaan di lapangan.

Pemerintah Israel juga dilaporkan melarang sejumlah organisasi bantuan internasional besar untuk beroperasi di Gaza, termasuk Dokter Tanpa Batas (Médecins Sans Frontières/MSF) dan Dewan Pengungsi Norwegia.