Solusiindonesia.com — Militer Amerika Serikat mengumumkan penyitaan kapal tanker minyak ketujuh yang dikaitkan dengan Venezuela, seiring Washington memperketat pengawasan terhadap produksi dan penjualan cadangan minyak besar milik negara tersebut.
Mengutip dari Al Jazeera, Komando Selatan Amerika Serikat (SOUTHCOM) menyatakan telah menangkap Kapal Motor Sagitta pada Selasa sebagai bagian dari blokade terhadap kapal-kapal tanker minyak yang keluar dan masuk Venezuela. Operasi ini dilakukan dalam rangka menegakkan kebijakan sanksi AS terhadap sektor energi negara Amerika Selatan itu. Pada Selasa (20/01/2025)
“Penangkapan kapal tanker lain yang beroperasi dengan mengabaikan karantina yang ditetapkan Presiden Trump terhadap kapal-kapal yang dikenai sanksi di Karibia menunjukkan tekad kami untuk memastikan bahwa satu-satunya minyak yang meninggalkan Venezuela adalah minyak yang dikoordinasikan dengan benar dan sesuai hukum,” ujar SOUTHCOM dalam pernyataannya.
SOUTHCOM menambahkan bahwa penyitaan tersebut berlangsung tanpa insiden. Militer AS juga merilis rekaman video yang memperlihatkan pasukan diterjunkan dari udara dan mendarat di atas kapal tanker tersebut.
Amerika Serikat mulai menyita kapal-kapal tanker yang dikenai sanksi sejak 10 Desember lalu, sebagai bagian dari kampanye peningkatan tekanan terhadap pemerintah Venezuela.
Ketegangan antara Washington dan Caracas mencapai titik kritis pada 3 Januari, ketika Presiden AS Donald Trump mengizinkan operasi militer dini hari untuk menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Menjelang operasi itu, Trump dan sejumlah sekutunya, termasuk Stephen Miller, semakin vokal mengklaim minyak Venezuela, dengan merujuk pada sejarah keterlibatan perusahaan-perusahaan AS dalam eksplorasi minyak negara tersebut pada awal abad ke-20.
Venezuela sendiri menasionalisasi industri minyaknya pada 1971. Langkah penyitaan aset perusahaan minyak asing pada 2007 kemudian memicu kritik dari pemerintahan Trump, yang menyebut minyak Venezuela sebagai “dicuri” dari pemilik Amerika. Namun, sebagian besar pakar hukum internasional menilai klaim tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Venezuela.
Meski demikian, Trump berulang kali menegaskan bahwa Amerika Serikat akan mengendalikan minyak Venezuela dan menggunakan ancaman aksi militer lanjutan untuk menekan pemerintah negara tersebut agar patuh.
Pemerintahannya juga menjatuhkan sanksi ekonomi berat terhadap Venezuela, melanjutkan kebijakan tekanan yang telah dimulai sejak masa jabatan pertamanya.
Washington menggambarkan penyitaan kapal tanker sebagai bagian dari penegakan sanksi tersebut, meskipun penggunaan kekuatan militer untuk menegakkan hukuman ekonomi masih menuai perdebatan mengenai legalitasnya.
Trump dan para pejabatnya menyatakan bahwa penjualan minyak Venezuela di pasar global akan dikendalikan oleh Amerika Serikat, dengan hasil penjualan disimpan di rekening bank yang berada di bawah kendali AS. Kendali atas minyak Venezuela juga digunakan Trump untuk meningkatkan tekanan terhadap Kuba, yang selama ini bergantung pada pasokan minyak dari Venezuela sebagai penopang ekonomi.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Selasa, Trump mengklaim telah mengambil alih 50 juta barel minyak dari Venezuela. “Kita masih punya jutaan barel minyak,” katanya. “Kita menjualnya di pasar terbuka. Kita menurunkan harga minyak secara drastis.”
Sementara itu, Presiden sementara Venezuela Delcy Rodríguez menyatakan negaranya telah menerima 300 juta dolar AS dari penjualan minyak terbaru. Dalam pidato kenegaraan perdananya pekan lalu, ia juga mengisyaratkan rencana reformasi undang-undang hidrokarbon Venezuela guna membuka peluang investasi asing yang lebih luas ke depan.







