Solusiindonesia.com — Presiden FIFA Gianni Infantino angkat bicara untuk membela keputusannya memberikan penghargaan perdamaian perdana FIFA kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Pembelaan itu disampaikan menyusul kritik terhadap pemberian penghargaan tersebut dalam acara undian Piala Dunia 2026 di Washington DC, Desember lalu.
Kontroversi mencuat setelah keputusan FIFA tersebut beriringan dengan langkah Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Selain itu, pernyataan Trump yang menyatakan keinginan untuk mengakuisisi Greenland turut memunculkan pertanyaan publik mengenai kelayakan penghargaan perdamaian yang diterimanya.
Meski demikian, Infantino menegaskan bahwa Trump layak mendapatkan penghargaan tersebut. Kepada Sky News, ia menyatakan,
“Secara objektif, dia layak menerimanya.” Senin (02/02/2026)
Ia menambahkan, “Apa pun yang bisa kita lakukan untuk membantu perdamaian di dunia, seharusnya kita lakukan, dan karena alasan itu, sejak beberapa waktu kami berpikir harus melakukan sesuatu untuk memberi penghargaan kepada orang-orang yang melakukan upaya tersebut.”
Infantino juga menepis anggapan bahwa kebijakan domestik maupun luar negeri pemerintahan Trump berpotensi memicu boikot Piala Dunia 2026, yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada 11 Juni hingga 19 Juli. Ia menilai keresahan di sejumlah kota di AS, termasuk Minneapolis, terkait penegakan hukum imigrasi tidak semestinya mencampuradukkan politik dengan sepak bola.
“Di dunia kita yang terpecah, di dunia kita yang agresif, kita membutuhkan momen-momen di mana orang bisa datang, bisa bertemu seputar gairah terhadap sepak bola,” ujar Infantino.
Dalam pernyataannya, Infantino juga menyebut FIFA dan UEFA perlu mempertimbangkan kemungkinan membuka kembali jalan bagi Rusia untuk tampil di kompetisi internasional.
Seperti diketahui, Rusia dilarang mengikuti Piala Dunia sejak invasi ke Ukraina pada 2022, meskipun Komite Olimpiade Internasional telah merekomendasikan agar atlet Rusia diizinkan kembali berkompetisi di level usia muda.
“Kita harus melihat kemungkinan menerima kembali Rusia. Pasti,” kata Infantino.
Ia menilai larangan tersebut tidak membawa dampak positif. “Larangan ini tidak mencapai apa pun, itu hanya menciptakan lebih banyak frustrasi dan kebencian.”
Menurutnya, “Membiarkan anak-anak perempuan dan laki-laki dari Rusia bermain sepak bola di bagian lain Eropa justru akan membantu.”







