Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Internasional

Serangan Kembali Terjadi di Gaza, 23 Warga Palestina Dilaporkan Tewas

×

Serangan Kembali Terjadi di Gaza, 23 Warga Palestina Dilaporkan Tewas

Sebarkan artikel ini
kondisi pemukiman Gaza / foto: tangkapan layar x

Solusiindonesia.com — Militer Israel dilaporkan kembali melakukan serangan ke Jalur Gaza pada Rabu (4/2/2026), di tengah kesepakatan gencatan senjata yang masih berlaku.

Rentetan serangan tersebut menyebabkan sedikitnya 23 orang meninggal dunia, termasuk anak-anak.

Berdasarkan laporan di lapangan, serangan artileri Israel menghantam wilayah Tuffah dan Zeitoun di Kota Gaza, menewaskan 14 orang. Sementara itu, empat korban lainnya dilaporkan meninggal akibat serangan di kamp pengungsi Qizan Abu Rashwan.

Korban jiwa juga jatuh di wilayah pesisir Al Mawasi, setelah serangan udara menghantam area tenda pengungsian. Bulan Sabit Merah Palestina menyatakan salah satu korban tewas merupakan petugas tanggap darurat pertama bernama Hussein Hasan Hussein al-Sumairy.

Selain menimbulkan korban jiwa, serangan Israel turut merusak rumah-rumah warga. Kontributor Al Jazeera di Gaza, Tareq Abu Azzoum, menyebut aktivitas militer Israel meningkat dalam beberapa jam terakhir.

“Terjadi peningkatan aktivitas militer Israel di Gaza dalam beberapa jam terakhir,” ujar Tareq Abu Azzoum.

“Kami juga dapat mendengar suara drone Israel yang terus berputar di udara, yang mengindikasikan kemungkinan adanya serangan lanjutan.”

Di tengah situasi tersebut, Palang Merah Palestina menyampaikan bahwa Israel membatalkan koordinasi untuk evakuasi kelompok ketiga pasien Palestina yang dijadwalkan keluar dari Jalur Gaza melalui perlintasan Rafah pada hari yang sama.

Sejak gencatan senjata diberlakukan pada Oktober lalu, pasukan Israel dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 520 warga Palestina. Sebelumnya, Israel melancarkan operasi militer besar-besaran ke Gaza sejak Oktober 2023, yang mengakibatkan lebih dari 70.000 warga Palestina meninggal dunia serta jutaan lainnya terpaksa mengungsi.

Image Slide 1