Solusiindonesia.com — Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza kembali mencekam setelah serangkaian serangan udara dilaporkan menghantam wilayah selatan dan tengah pada Sabtu (31/1/2026). Insiden tragis ini terjadi di tengah berjalannya fase kedua gencatan senjata yang seharusnya membawa ketenangan bagi warga sipil.
Laporan dari badan pertahanan sipil setempat menyebutkan sedikitnya 32 orang tewas, termasuk perempuan dan anak-anak. Salah satu titik serangan paling mematikan berada di kota Khan Younis, di mana helikopter tempur dilaporkan menghantam tenda-tenda pengungsi.
Di Kota Gaza, petugas medis di Rumah Sakit Shifa mengonfirmasi kematian tiga anak-anak dan dua wanita setelah sebuah apartemen tempat tinggal hancur terkena rudal. Rekaman visual yang beredar menunjukkan proses evakuasi jenazah dari balik reruntuhan bangunan yang luluh lantak.
Pihak militer Israel (IDF) mengonfirmasi operasi tersebut sebagai respons atas dugaan pelanggaran yang dilakukan Hamas pada Jumat (30/1).
Berdasarkan keterangan resmi IDF, terdeteksi delapan orang yang diidentifikasi sebagai teroris keluar dari terowongan di Rafah timur, membuat pihak IDF lakukan serangan dengan menargetkan fasilitas penyimpanan senjata, lokasi produksi alutsista, dan pusat komando Hamas termasuk dua lokasi peluncuran roket di Jalur Gaza tengah turut dihancurkan.
Di sisi lain, Hamas mengutuk keras aksi tersebut dan menyebutnya sebagai bukti bahwa pemerintah Israel tidak berniat menghentikan agresi sepenuhnya. Mereka mendesak Amerika Serikat untuk segera turun tangan menghentikan eskalasi ini.
.
Gencatan senjata yang dimulai sejak 10 Oktober 2025 ini sebenarnya telah memasuki fase kedua pada awal Januari 2026, yang diinisiasi oleh utusan khusus AS, Steve Witkoff. Kesepakatan ini mencakup:
- Pertukaran sandera dan tahanan.
- Penarikan sebagian pasukan Israel dari pemukiman.
- Peningkatan akses bantuan kemanusiaan.
Namun, data menunjukkan kerentanan perjanjian ini. Sejak gencatan senjata dimulai, setidaknya 509 warga Palestina dan empat tentara Israel dilaporkan tewas dalam berbagai insiden sporadis.
Mesir dan Qatar, selaku mediator utama, menyatakan keprihatinan mendalam. Kementerian Luar Negeri Mesir mendesak semua pihak untuk menahan diri guna menjaga peluang perdamaian. Ketegangan ini juga terjadi tepat sebelum rencana pembukaan kembali Penyeberangan Rafah yang sempat tertunda pasca penemuan jenazah sandera terakhir awal pekan lalu.
Hingga saat ini, total korban jiwa di pihak Gaza sejak awal konflik Oktober 2023 telah melampaui 71.660 jiwa, angka yang terus diverifikasi oleh PBB di tengah keterbatasan akses pelaporan independen di lapangan.








