Solusiindonesia.com — Presiden Kolombia, Gustavo Petro, mengejutkan publik dengan pengakuan bahwa dirinya baru saja lolos dari upaya pembunuhan berencana. Petro menyebut ancaman ini berasal dari kelompok pengedar narkoba yang telah mengincarnya selama berbulan-bulan.
Insiden dramatis tersebut terjadi pada Senin malam (9/2). Helikopter kepresidenan yang membawa Petro terpaksa membatalkan pendaratan di wilayah pantai Karibia setelah muncul laporan intelijen mengenai keberadaan kelompok bersenjata yang siap menembak jatuh pesawat tersebut.
Dalam rapat kabinet yang disiarkan secara langsung pada Rabu (11/2/2026), Petro membeberkan detik-detik pelariannya.
“Kami terpaksa menuju laut lepas selama empat jam. Saya akhirnya mendarat di lokasi yang sama sekali tidak direncanakan demi menghindari upaya pembunuhan tersebut,” ujar Petro di hadapan para menterinya.
Petro mengklaim bahwa konspirasi ini melibatkan bos-bos narkoba besar dan panglima perang lintas faksi. Salah satu nama yang disebut adalah Ivan Mordisco, pemimpin kelompok pembangkang terbesar yang memisahkan diri dari gerilya FARC (Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia).
Petro mengaku telah menjadi incaran kelompok kriminal sejak menjabat pada Agustus 2022. Ini bukan kali pertama; Petro dilaporkan pernah mengalami upaya pembunuhan serupa pada tahun 2024. Dan Kolombia memiliki sejarah kelam pembunuhan pemimpin sayap kiri dan kandidat presiden.
Kenaikan tensi keamanan ini terjadi di tengah lonjakan kekerasan nasional, hanya beberapa bulan menjelang pemilihan presiden mendatang. Meskipun secara konstitusi Petro dilarang mencalonkan diri kembali untuk masa jabatan kedua, posisinya sebagai presiden sayap kiri pertama di Kolombia menjadikannya simbol perubahan yang kontroversial bagi kelompok bersenjata dan kartel narkoba.





