Solusiindonesia.com — Di tengah meningkatnya tensi geopolitik dengan Amerika Serikat (AS), Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan telah menyusun rencana kontingensi kepemimpinan yang krusial. Dalam laporan terbaru New York Times, Khamenei disebut telah memberikan instruksi khusus kepada penasihat seniornya, Ali Larijani, untuk mengambil alih kendali negara jika situasi darurat menyebabkan sang pemimpin tertinggi terbunuh atau berhalangan tetap.
Langkah ini dianggap tidak lazim karena mandat tersebut tidak diberikan kepada Presiden Masoud Pezeshkian, melainkan kepada Larijani yang dikenal sebagai tokoh kepercayaan di lingkaran dalam Teheran.
Rencana Suksesi dan Rantai Komando Darurat
Berdasarkan informasi dari pejabat Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan mantan diplomat, instruksi Khamenei mencakup delegasi kekuasaan yang berlapis. Fokus utama dari rencana ini adalah jika komunikasi terputus akibat perang, wewenang dialihkan kepada dewan penasihat terdekat.
Larijani, yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, diposisikan sebagai figur kunci dalam urusan negara. Penunjukan Larijani didasari oleh keberhasilannya dalam menangani isu-isu sensitif, mulai dari perundingan nuklir hingga koordinasi militer dengan sekutu seperti Rusia dan Qatar.
Teheran saat ini berada dalam posisi siaga satu. Selain menyiapkan rencana suksesi, Iran juga memperkuat postur militernya di lapangan:
- Mobilisasi Rudal: Kekuatan rudal Iran telah dikerahkan secara strategis di sepanjang Teluk Persia dan wilayah perbatasan Irak.
- Latihan Tempur: Militer Iran secara intensif melakukan simulasi perang sebagai respon atas ancaman serangan dari Washington.
- Diplomasi di Ujung Tanduk: Meski Presiden AS Donald Trump sempat melontarkan peluang kesepakatan baru, Iran menilai jendela diplomasi semakin menyempit dan bersiap menghadapi skenario terburuk.
Penting untuk dicatat bahwa peran Ali Larijani dalam instruksi ini dipandang sebagai “pemimpin krisis,” bukan sebagai penerus permanen gelar Pemimpin Tertinggi. Langkah ini diambil untuk memastikan tidak ada kekosongan kekuasaan (power vacuum) jika struktur kepemimpinan utama menjadi target operasi militer AS.
Strategi ini menunjukkan betapa seriusnya Teheran memandang ancaman serangan langsung yang mungkin menargetkan tokoh-tokoh kunci pemerintahan. Dengan menetapkan rantai komando yang jelas, Iran berusaha menunjukkan bahwa sistem pemerintahan mereka akan tetap berjalan meski berada di bawah tekanan perang skala penuh.





