Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Internasional

Krisis Iran 2026: Ayatollah Ali Khamenei Kecam Demonstran, Sebut Aksi Protes Sebagai ‘Ulah’ AS

×

Krisis Iran 2026: Ayatollah Ali Khamenei Kecam Demonstran, Sebut Aksi Protes Sebagai ‘Ulah’ AS

Sebarkan artikel ini
Pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei. Foto: Instagram

Solusiindonesia.com — Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengeluarkan peringatan keras terhadap para demonstran antipemerintah dalam pidato televisinya, Jumat (9/1/2026). Di tengah gelombang protes terbesar sejak 2022, Khamenei menuduh para pengunjuk rasa sebagai alat politik Amerika Serikat untuk menggoyang stabilitas Republik Islam.

Krisis ini menandai titik didih baru di Iran, di mana tindakan keras aparat dilaporkan telah memakan puluhan korban jiwa di berbagai kota besar.

Dalam pidatonya, Khamenei menyebut para demonstran sebagai “pembuat ulah” yang berupaya menyenangkan Presiden AS, Donald Trump. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan berkompromi dengan apa yang ia sebut sebagai “unsur-unsur perusak.”

“Biar semua orang tahu bahwa Republik Islam ini berkuasa melalui darah ratusan ribu orang terhormat dan tidak akan mundur menghadapi mereka yang mengingkari hal itu,” tegas Khamenei.

Laporan dari BBC menyebutkan bahwa skala demonstrasi kali ini merupakan yang terbesar dalam tiga tahun terakhir. Warga Iran turun ke jalan-jalan di berbagai wilayah, menyuarakan ketidakpuasan terhadap otoritas yang dinilai semakin melemah sejak gerakan protes massal pada tahun 2022.

Sebagai upaya meredam koordinasi massa, pemerintah Iran mengambil langkah drastis dengan Pemadaman Internet sehingga membatasi akses komunikasi di seluruh negeri. Pengerahan aparat keamanan yang dilaporkan menyebabkan puluhan orang tewas. Dan otoritas mengklaim adanya tindakan subversif dan perusakan fasilitas publik oleh demonstran.

Konflik domestik ini kini merembet ke ranah internasional. Pemerintah Iran secara resmi melayangkan surat kepada Dewan Keamanan PBB. Dalam dokumen tersebut, Teheran secara eksplisit menyalahkan Amerika Serikat atas eskalasi kekerasan.

Iran menuding AS telah mengubah demonstrasi damai menjadi “tindakan subversif yang beringas” serta memicu vandalisme yang meluas di dalam negeri.

Tuduhan ini semakin memperuncing hubungan antara Teheran dan Washington yang telah lama tegang.

Kebangkitan massa di awal 2026 ini menunjukkan bahwa keresahan sosial di Iran belum sepenuhnya padam sejak kerusuhan besar tahun 2022. Dengan kondisi ekonomi dan tekanan politik yang terus membayangi, stabilitas kekuasaan Khamenei kini menghadapi ujian paling serius di dekade ini.

Image Slide 1