Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Internasional

Konflik Timur Tengah Memuncak, IRGC Janjikan Balasan Mematikan Atas Kematian Ayatollah Ali Khamenei

×

Konflik Timur Tengah Memuncak, IRGC Janjikan Balasan Mematikan Atas Kematian Ayatollah Ali Khamenei

Sebarkan artikel ini
Ayatollah Ali Khamenei / foto: x

Solusiindonesia.com — Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih tertinggi setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) secara resmi mengonfirmasi kesiapan mereka untuk melakukan aksi balas dendam besar-besaran. Langkah ini diambil menyusul kabar wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang disebut-sebut menjadi target serangan militer.

Melalui saluran berita Fars, IRGC mengungkapkan rasa duka mendalam sekaligus kemarahan atas hilangnya sosok sentral tersebut. Pihak militer Iran melabeli peristiwa ini sebagai tindakan terorisme internasional yang dilakukan oleh musuh-musuh bebuyutan mereka.

Dalam pernyataan resminya, IRGC menegaskan bahwa kematian Ayatollah Ali Khamenei tidak akan dibiarkan tanpa konsekuensi. Mereka mengancam akan meluncurkan operasi ofensif paling agresif dalam sejarah angkatan bersenjata Republik Islam tersebut.

“Tangan pembalasan bangsa Iran akan memberikan hukuman yang berat, tegas, dan tak terelakkan bagi para pelaku yang bertanggung jawab atas kematian Imam Umat,” tulis pernyataan IRGC via Telegram.

Kabar meninggalnya Ayatollah Ali Khamenei pertama kali mencuat pada Sabtu, 28 Februari 2026. Laporan dari media internasional menyebutkan bahwa serangan tersebut diduga melibatkan koordinasi antara militer Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump dan pihak Israel.

Beberapa poin penting terkait situasi terkini di Teheran meliputi:

  • Masa Berkabung Nasional: Pemerintah Iran menetapkan masa duka selama 40 hari penuh.
  • Korban Keluarga: Laporan menyebutkan serangan tersebut juga merenggut nyawa beberapa anggota keluarga dekat Khamenei, termasuk anak dan cucunya.
  • Narasi Kemartiran: Media pemerintah Iran secara konsisten menyebut sang pemimpin sebagai “martir” yang menjadi korban kekejaman asing.

Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei menandai akhir dari era kepemimpinan panjang yang dimulai sejak tahun 1989. Sebagai figur yang membentuk arah politik dan ideologi Iran selama dekade terakhir, kekosongan kekuasaan ini diprediksi akan memicu guncangan hebat, baik di dalam negeri maupun pada stabilitas keamanan di kawasan Teluk.

Dunia internasional kini tengah menyoroti langkah apa yang akan diambil Iran selanjutnya, mengingat ancaman “perang regional” yang sebelumnya sempat diperingatkan oleh pihak Teheran jika kedaulatan mereka dilanggar.