solusiindonesia.com — Sedikitnya 83 warga Palestina dilaporkan tewas dalam serangan Israel terbaru di Jalur Gaza di tengah krisis kelaparan yang terus memburuk.
Sumber medis menyampaikan kepada Al Jazeera bahwa jumlah korban terus bertambah, sementara rumah sakit di wilayah tersebut juga melaporkan delapan kematian lainnya akibat kelaparan dan kekurangan gizi.
Mengutip laporan Hind Khoudary dari Al Jazeera, yang melaporkan langsung dari Deir el-Balah, Gaza tengah, ia menyebut bahwa “skenario yang sama terus berulang setiap hari” sejak lokasi distribusi bantuan GHF mulai dibuka pada Mei lalu.
“Warga Palestina mendekati titik distribusi, menunggu bantuan makanan, namun pasukan Israel menembaki mereka,” jelas Khoudary.
Khoudary juga mengutip pernyataan dari sumber di Rumah Sakit al-Shifa bahwa jumlah korban luka yang dibawa dari titik distribusi di dekat perlintasan Zikim, Gaza utara,
“Luka-luka yang dialami mengenai bagian tubuh yang sangat sulit ditangani, seperti kepala, leher, dan dada,” Siklus kekerasannya sama terjadi di tiga lokasi distribusi bantuan.”
PBB dan sejumlah organisasi kemanusiaan internasional mengkritik GHF karena dinilai gagal menyediakan bantuan secara memadai dan tidak mampu menjamin keamanan di sekitar lokasi distribusi.
Hingga saat ini, lebih dari 1.560 warga Palestina tewas saat mencoba mendapatkan bantuan pangan, menurut data yang dikumpulkan sejak awal krisis kelaparan yang dipicu oleh blokade dan serangan Israel.
Situasi ini diperparah dengan lonjakan angka kelaparan ekstrem, terutama di kalangan anak-anak dan lansia.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, dalam 24 jam terakhir delapan orang kembali meninggal dunia akibat kelaparan atau malnutrisi, termasuk satu anak. Jumlah total korban jiwa akibat kelaparan sejak perang dimulai kini mencapai 188 orang, dengan 94 di antaranya merupakan anak-anak.
Pada Senin lalu, Israel hanya mengizinkan 95 truk bantuan memasuki Gaza, jauh dari jumlah minimum 600 truk per hari yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk, menurut UNRWA. Rata-rata pengiriman harian saat ini hanya mencapai sekitar 85 truk.
Kantor Media Pemerintah Gaza kembali memperingatkan mengenai krisis kemanusiaan yang semakin parah.
Dalam pernyataannya disebutkan bahwa sebagian besar bantuan terbatas telah dijarah akibat “kekacauan keamanan yang disebarkan oleh pendudukan Israel sebagai bagian dari kebijakan sistematis rekayasa kekacauan dan kelaparan.”








