Solusiindonesia.com — Israel melancarkan serangan terhadap Rumah Sakit Nasser di wilayah selatan Jalur Gaza yang menewaskan sedikitnya 21 orang. Pada Senin (25/08/2025)
Korban jiwa meliputi lima wartawan, sejumlah tenaga medis, serta petugas penyelamat. Aksi ini kembali menegaskan pola serangan yang disengaja terhadap warga sipil dan infrastruktur kesehatan di daerah yang terkepung.
Dikutip dari Al Jazeera, korban di antaranya adalah jurnalis yang bekerja untuk Al Jazeera, kantor berita Reuters, Associated Press (AP), dan lainnya.
Peristiwa ini menjadi salah satu yang paling mematikan dari rangkaian serangan Israel terhadap fasilitas kesehatan dan insan pers selama hampir dua tahun serangan yang disebut sebagai genosida.
Penyerangan terjadi saat Israel memperluas operasi militernya ke kawasan padat penduduk, termasuk Kota Gaza.
Hal tersebut meningkatkan risiko bagi warga sipil yang sudah menghadapi situasi darurat kemanusiaan.
Serangan yang dijuluki sebagai “ketuk ganda” itu bermula ketika rudal pertama menghantam lantai atas Rumah Sakit Nasser.
Beberapa menit kemudian, saat para jurnalis dan tim penyelamat berjaket oranye naik ke tangga luar untuk membantu korban, proyektil kedua menghantam lokasi yang sama. Kepala Departemen Pediatri, Dr. Ahmed al-Farra, membenarkan kronologi kejadian tersebut.
Daftar wartawan yang tewas meliputi Mohammad Salama dari Al Jazeera, juru kamera Reuters Hussam al-Masri, Mariam Abu Daqqa yang bekerja untuk AP, serta dua jurnalis lainnya, Ahmed Abu Aziz dan Moaz Abu Taha.
Koresponden Al Jazeera, Tareq Abu Azzoum, melaporkan dari Deir el-Balah bahwa serangan ini menimbulkan kekacauan dan kepanikan massal.
“Bukan hanya bagi orang yang lewat atau warga sekitar rumah sakit, tetapi juga bagi pasien yang sedang menjalani perawatan di tempat yang seharusnya dilindungi hukum humaniter internasional,” jelasnya.
Serangan ke Rumah Sakit Nasser ini menuai kecaman global. Organisasi kebebasan pers dan kelompok pembela hak asasi manusia menyatakan kemarahan atas pola serangan berulang terhadap jurnalis Palestina di Gaza.
Al Jazeera menyebut tindakan Israel sebagai “niat yang jelas untuk mengubur kebenaran”.
Pelapor khusus PBB untuk wilayah Palestina yang diduduki, Francesca Albanese, juga mengutuk keras insiden tersebut.
“Tim penyelamat tewas saat bertugas. Pemandangan seperti ini terjadi setiap saat di Gaza, seringkali tak terlihat, sebagian besar tak terdokumentasi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa komunitas internasional harus segera bertindak untuk menghentikan pembantaian, menghancurkan blokade, serta menerapkan embargo senjata dan sanksi terhadap Israel.
Sejumlah sekutu Israel, termasuk Prancis, Jerman, dan Inggris, mendesak agar dilakukan penyelidikan.
Serikat Jurnalis Palestina pun menyatakan serangan ini sebagai bentuk “perang terbuka terhadap media bebas” dengan tujuan menebar teror kepada para jurnalis agar tidak melaporkan kejahatan Israel ke mata dunia.






