Solusiindonesia.com — Ribuan warga Israel turun ke jalan di berbagai kota untuk menuntut pembebasan tawanan yang masih ditahan di Gaza serta penghentian segera perang yang terus berkecamuk di wilayah tersebut. Selasa, (26/08/2025).
para pengunjuk rasa memblokir sejumlah jalan utama di Tel Aviv dan kota lain sambil membawa foto-foto tawanan yang diculik dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Mereka menyerukan dilakukannya gencatan senjata secepatnya,
Kerumunan besar juga berkumpul di depan markas Kementerian Pertahanan di Tel Aviv dalam aksi yang disebut sebagai “Hari Gangguan”.
Mengutip dari Al Jazeera, Kegiatan ini diinisiasi keluarga para tawanan yang menuding pemerintah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengabaikan nasib mereka.
Einav Zangauker, ibu dari Matan (25), salah satu tawanan yang masih ditahan, menilai perang sudah berlangsung terlalu lama tanpa arah jelas.
“Selama 690 hari, pemerintah melancarkan perang tanpa tujuan. Kita bisa menyelamatkan sandera dan tentara, tetapi perdana menteri berulang kali memilih mengorbankan warga sipil demi kekuasaan,” ucapnya
Senada, Ruby Chen, ayah dari Itay Chen (21), tentara AS-Israel yang jasadnya masih berada di Gaza, meminta pemerintah segera kembali berunding.
“Ada tawaran kesepakatan di meja perundingan. Kita bisa mengembalikan semua sandera jika mau mengambil keputusan itu,” katanya.
Meski tekanan internasional meningkat, termasuk peringatan krisis kelaparan dari badan-badan PBB, Israel tetap melancarkan serangan baru ke Kota Gaza.
Panglima militer Israel mengakui kesepakatan pembebasan tawanan sedang dibicarakan, namun memperingatkan operasi perebutan Gaza berisiko besar bagi keselamatan para tawanan.
Gelombang protes ini berlangsung seiring meningkatnya serangan militer Israel di Gaza. Di saat bersamaan, survei terbaru dari kelompok riset Israel memperlihatkan dukungan mayoritas warga Yahudi-Israel terhadap anggapan bahwa “tidak ada warga sipil tak bersalah” di Jalur Gaza.
Laporan aChord, lembaga penelitian psikologi sosial berbasis Universitas Ibrani, menunjukkan 76 persen responden Yahudi-Israel setuju sebagian atau sepenuhnya dengan pandangan tersebut. Bahkan, hampir setengah dari pemilih oposisi (47 persen) juga mendukung klaim itu.
“Ini temuan yang sulit,” tulis peneliti Ron Gerlitz dalam postingan di X. “Temuan ini menyoroti banyaknya korban sipil Palestina yang berjatuhan dalam perang di Gaza.”
Sementara itu, media Haaretz memberitakan adanya puluhan demonstran yang melakukan aksi di depan sebuah restoran di Yerusalem saat Dewan Regional Binyamin yang mengawasi permukiman ilegal di Tepi Barat menggelar acara. Mereka meneriakkan, “Mereka kelaparan, kalian yang berpesta.”
Kementerian Kesehatan Gaza mengonfirmasi sedikitnya 64 orang Palestina terbunuh dalam serangan terbaru Israel sejak pagi, termasuk 13 korban yang ditembak saat mencoba mendapatkan bantuan pangan.
Saat ini, separuh dari 2 juta penduduk Gaza berlindung di Kota Gaza. Ribuan lainnya terpaksa berdesakan di wilayah pesisir atau mengungsi ke selatan menuju kamp-kamp pengungsian di Gaza tengah dan al-Mawasi.








