Solusiindonesia.com — Militer Israel menyatakan tidak lagi menghentikan pertempuran untuk memberi ruang pengiriman bantuan di Kota Gaza. Pada Jumat (29/08/2025).
Keputusan ini berpotensi memperburuk krisis kelaparan yang sudah melanda wilayah utara Gaza.
Pasukan Israel terus meningkatkan serangan di sekitar Kota Gaza seiring persiapan operasi darat skala besar.
Dikutip dari The Guardian, kelompok kemanusiaan dan sejumlah sekutu terdekat Israel memperingatkan operasi tersebut bisa menjadi bencana besar bagi ratusan ribu warga sipil yang tengah berjuang melawan kelaparan, penyakit, serta rentetan serangan militer.
Kementerian Kesehatan Gaza pada Jumat melaporkan bahwa lima orang meninggal akibat kekurangan gizi, sementara 59 lainnya tewas dalam 24 jam terakhir karena serangan Israel.
Dalam pernyataannya, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menegaskan bahwa mulai Jumat pagi seluruh Kota Gaza dianggap sebagai “zona pertempuran berbahaya”.
Dengan begitu, jeda taktis lokal untuk penyaluran bantuan kemanusiaan tidak berlaku lagi. Meski begitu, Israel belum menginstruksikan evakuasi menyeluruh terhadap warga sipil.
Sekitar 80 persen wilayah Gaza kini berada di bawah perintah evakuasi. Warga sipil dijejali hanya di seperlima wilayah, itupun tidak sepenuhnya aman karena tetap menjadi sasaran serangan udara.
Tank-tank Israel telah memasuki pinggiran kota, sementara kawasan Zeitoun yang dulu dikenal mewah kini hancur rata dengan tanah.
Pada hari yang sama, militer Israel mengumumkan telah menemukan jenazah sandera berusia 55 tahun, Ilan Weiss, bersama satu sandera lain yang tidak disebutkan namanya. Weiss diketahui tewas dalam serangan 7 Oktober, dan jasadnya dibawa ke Gaza.
Sebelumnya, setelah tekanan internasional mengenai krisis pangan, Israel sempat berjanji menghentikan pertempuran sebagian hari agar konvoi bantuan dapat menjangkau masyarakat.
Namun kebijakan itu hanya memperlambat laju kelaparan, tidak cukup untuk membalikkan kondisi kritis di Kota Gaza.
Meski eskalasi terus terjadi, para mediator menyebut Hamas telah menyetujui usulan gencatan senjata sebagian. Jajak pendapat juga menunjukkan mayoritas warga Israel mendukung penghentian perang dengan imbalan pembebasan sandera.
Namun rencana tersebut berpotensi menggoyahkan koalisi rapuh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, lantaran mitra politik sayap kanan ekstrem mengancam keluar jika pertempuran dihentikan.
Netanyahu menegaskan operasi militer penuh di Kota Gaza diperlukan untuk menghancurkan Hamas. Juru bicara militer Israel bahkan menyebut pemindahan paksa seluruh warga Palestina dari Kota Gaza “tidak terhindarkan”.
PBB mencatat sekitar 23 ribu warga telah meninggalkan kota dalam sepekan terakhir, meski banyak lainnya memilih bertahan karena tak ada lagi tempat yang benar-benar aman.








