Solusiindonesia.com — Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, mengklaim bahwa delapan kapal perang Amerika Serikat (AS) yang membawa sekitar 1.200 rudal kini diarahkan ke negaranya. Ia menegaskan, Venezuela tidak akan tunduk pada tekanan militer apa pun.
Maduro menyebut pengerahan kapal perang tersebut sebagai “ancaman yang kejam dan berdarah.” Langkah Washington itu diumumkan sebagai bagian dari operasi anti-narkotika di kawasan Karibia selatan, di tengah tuduhan AS bahwa Maduro terlibat dalam kartel narkoba.
Dalam pertemuan dengan media asing di Caracas, Maduro menilai situasi ini sebagai ancaman militer terbesar yang pernah dihadapi benua Amerika dalam satu abad, pada Senin (1/9/2025).
“Delapan kapal perang dengan 1.200 rudal, ditambah satu kapal selam, diarahkan untuk menekan Venezuela,” ujarnya.
Maduro, yang memenangkan pemilu pada 2018 dan kembali terpilih pada 2024 meski tidak diakui AS dan sebagian komunitas internasional, menegaskan bahwa Venezuela sudah berada dalam kesiapan penuh untuk mempertahankan kedaulatannya.
Sementara itu, Washington meningkatkan hadiah penangkapan Maduro menjadi USD50 juta (sekitar Rp822 miliar), meski belum menyatakan secara resmi akan melancarkan invasi.
Sebagai bentuk perlawanan, Caracas berencana meningkatkan patroli di wilayah perairannya serta mengerahkan lebih dari empat juta anggota milisi.
Maduro juga menyayangkan terhentinya komunikasi dengan AS dan menegaskan bahwa negaranya tidak akan menyerah pada tekanan maupun pemerasan.
Ia bahkan memperingatkan Presiden AS Donald Trump bahwa langkah keras pemerintahannya, yang menurut Maduro dipengaruhi Menteri Luar Negeri Marco Rubio, bisa berujung pada pertumpahan darah di Venezuela.
Dalam laporan Associated Press yang mengutip pejabat pertahanan Amerika Serikat, disebutkan ada tujuh kapal perang AS yang kini beroperasi di perairan Amerika Latin dekat Venezuela.
Armada tersebut terdiri atas dua kapal perusak berpeluru kendali Aegis USS Gravely dan USS Jason Dunham, kapal perusak USS Sampson, kapal penjelajah USS Lake Erie, serta tiga kapal serbu amfibi, dengan total lebih dari 4.000 pelaut dan marinir di dalamnya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Venezuela, Yván Gil, dalam pertemuan virtual dengan sejumlah negara Amerika Latin menilai pengerahan pasukan maritim AS hanya dibangun atas “narasi palsu”. pada Senin (1/9/2025),
Ia mengutip laporan PBB yang menyebutkan 87 persen kokain asal Kolombia dikirim melalui jalur Pasifik, sedangkan hanya sekitar 5 persen yang melewati Venezuela.
Gil menegaskan, Bolivia dan Kolombia yang terkurung daratan, dengan akses ke Samudra Pasifik maupun Laut Karibia, justru menjadi produsen kokain terbesar dunia.
Ia memperingatkan bahwa narasi yang digunakan AS “mengancam seluruh kawasan”. Menurutnya, serangan terhadap Venezuela akan berimplikasi pada destabilisasi total di Amerika Latin.
“Karena itu, mari kita segera menuntut dihentikannya pengerahan pasukan ini, yang tidak memiliki dasar lain kecuali mengancam kedaulatan rakyat,” kata Gil.







