Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Internasional

Krisis Gaza Memburuk, UNICEF: Israel Tolak Bantuan Jarum Suntik dan Susu Bayi Masuk

×

Krisis Gaza Memburuk, UNICEF: Israel Tolak Bantuan Jarum Suntik dan Susu Bayi Masuk

Sebarkan artikel ini
Kondisi wilayah Gaza / foto: x

Solusiindonesia.com — Pasukan Israel kembali melakukan serangan mematikan di Jalur Gaza. Dalam 24 jam terakhir, sedikitnya tiga warga Palestina dilaporkan tewas, menurut pejabat kesehatan setempat.

Pada saat yang bersamaan, ketegangan meningkat di Tepi Barat yang diduduki ketika para pemukim Israel kembali melakukan aksi kekerasan terhadap sejumlah desa Palestina.

Mengutip laporan Al Jazeera, Kementerian Kesehatan Gaza membenarkan adanya korban jiwa dalam serangan terbaru pada Selasa (11/11/2025)

Sementara itu, Badan Pertahanan Sipil Gaza menyebut melalui pernyataan di Telegram bahwa pihaknya telah mengevakuasi 35 jenazah warga Palestina yang belum teridentifikasi ke Rumah Sakit al-Shifa untuk proses pencocokan identitas.

Menurut data resmi, jumlah korban tewas akibat perang Israel di Gaza telah mencapai sekitar 69.000 korban, dengan setidaknya 69.182 warga Palestina tewas dan 170.694 lainnya luka-luka sejak Oktober 2023.

Selain itu, sejak gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat mulai berlaku pada 10 Oktober lalu, Israel dilaporkan telah membunuh sedikitnya 245 warga Palestina.

Di sisi lain, Israel mencatat 1.139 korban jiwa dalam serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023, sementara sekitar 200 orang menjadi sandera.

Diperkirakan masih ada ribuan jenazah warga Palestina yang belum ditemukan, tertimbun di bawah reruntuhan setelah lebih dari dua tahun operasi militer Israel.

Dalam laporannya dari Gaza tengah, jurnalis Al Jazeera Tareq Abu Azzoum menggambarkan bagaimana keluarga korban harus mendatangi rumah sakit dan kamar jenazah untuk mencari sanak keluarga mereka.

Banyak dari mereka berusaha mengenali jasad hanya melalui serpihan barang pribadi, bekas luka, potongan pakaian, atau cedera lain karena kondisi jenazah yang membusuk dan minimnya alat identifikasi forensik.

Situasi semakin sulit bagi para teknisi dan ahli forensik yang menangani proses identifikasi. Peralatan untuk pengujian DNA sangat terbatas dan prosesnya terhambat oleh kurangnya suplai medis.

Banyak keluarga, terutama para ibu, terus kembali ke rumah sakit dengan harapan menemukan kepastian, namun seringkali pulang dengan kekecewaan yang mendalam.

Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, Israel telah melanggar kesepakatan gencatan senjata sedikitnya 282 kali antara 10 Oktober hingga 10 November melalui serangan udara, tembakan artileri, serta tembakan langsung.

Padahal, dalam kesepakatan tersebut Israel diwajibkan membuka akses bagi pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Namun UNICEF pada Selasa(11/11) menyatakan bahwa Israel telah menolak izin masuk bantuan penting, termasuk 1,6 juta jarum suntik vaksin dan hampir satu juta botol susu bayi.

Juru Bicara UNICEF Ricardo Pires mengatakan bahwa Israel mengategorikan jarum suntik dan lemari pendingin sebagai “barang kegunaan ganda” barang yang dianggap dapat digunakan untuk tujuan sipil maupun militer sehingga proses perizinannya dipersulit.

Penyelewengan ini berdampak besar pada program imunisasi. UNICEF melaporkan bahwa lebih dari 40.000 anak di Gaza gagal mendapatkan vaksinasi rutin di tengah perang, sementara jarum suntik tersebut telah tertahan di bea cukai sejak Agustus.

Sejumlah organisasi bantuan menegaskan bahwa jumlah logistik yang masuk ke Gaza tidak sebanding dengan kebutuhan dua juta penduduk, yang sebagian besar kini mengungsi dan mengalami kelaparan.

Berdasarkan data Dasbor Pemantauan UN2720, hanya 3.451 truk bantuan yang berhasil mencapai wilayah Gaza antara 10 Oktober hingga 9 November.

Image Slide 1