Solusiindonesia.com — Serangan udara kembali mengguncang Khan Younis, Gaza selatan, Lima orang dilaporkan tewas, menambah daftar korban menjadi 33 jiwa hanya dalam rentang sekitar 12 jam. Kamis (20/11/2025) malam
Menurut pihak rumah sakit, sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Rentetan serangan ini menjadi salah satu yang paling mematikan sejak gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat mulai berlaku pada 10 Oktober lalu.
Mengutip dari AP News, Lonjakan kekerasan dipicu klaim militer Israel bahwa pasukannya diserang di Khan Younis pada Rabu(19/11). Meski tidak ada tentara Israel yang tewas, militer menyebut mereka merespons dengan serangan udara.
Sederet pukulan udara Israel ke tenda-tenda pengungsi pada Rabu malam dan Kamis dini hari menewaskan 17 orang, termasuk lima perempuan dan lima anak-anak, menurut Rumah Sakit Nasser.
Di Gaza City, dua serangan udara terhadap sebuah gedung menambah jumlah korban menjadi 16 orang tewas, termasuk tujuh anak-anak. Para kerabat berkumpul di Rumah Sakit Nasser untuk menyalatkan para korban, sementara tangis dan ratapan pecah di ruang persemayaman.
Militer Israel menyebut serangan tersebut diarahkan kepada dua tokoh Hamas: seorang komandan unit angkatan laut dan satu pejabat yang mengatur jaringan terowongan kelompok itu di Khan Younis.
Hamas mengecam serangan tersebut sebagai “pembantaian mengerikan” dan membantah melakukan serangan terhadap pasukan Israel.
Peristiwa ini terjadi di tengah tekanan baru terhadap gencatan senjata, menyusul dukungan Dewan Keamanan PBB terhadap rencana Presiden AS Donald Trump mengenai masa depan Gaza termasuk pembentukan pasukan internasional dan otoritas transisi. Hamas menolak rencana tersebut, menilai mandat pasukan internasional dapat memihak Israel.
Walau intensitas serangan Israel menurun sejak gencatan senjata dimulai, kekerasan tetap muncul. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 300 kematian sejak perjanjian itu berlaku.
Kedua pihak saling menuduh melanggar kesepakatan yang meliputi aliran bantuan kemanusiaan dan pengembalian sandera.
Dalam dua tahun terakhir, kampanye militer Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 69.000 warga Palestina. Konflik berakar dari serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel selatan dan menculik lebih dari 250 orang.
Di bawah kesepakatan gencatan senjata terbaru, Hamas telah membebaskan 20 sandera yang masih hidup dan mengembalikan puluhan jenazah, sementara tiga jenazah lainnya dijadwalkan untuk diserahkan.








