Solusilndonesia.com — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggelar pertemuan dengan jajaran keamanan senior untuk membahas meningkatnya kekerasan yang dilakukan pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Jumat (21/11/2025)
Pertemuan ini digelar di tengah lonjakan insiden yang kembali menyedot perhatian publik dan memicu kecaman internasional.
Dikutip dari AP News, insiden terbaru terjadi di desa Huwara pada Jumat(21/11)malam, ketika pemukim Israel dilaporkan melempar batu ke mobil-mobil Palestina yang melintas.
Wali Kota Huwara, Jihad Ouda, menyebut aksi tersebut langsung disusul kebakaran besar di area pembuangan barang bekas di sekitar lokasi. Rekaman di media sosial menunjukkan api membesar dan asap pekat membumbung tinggi.
Militer Israel mengatakan menerima laporan mengenai warga Israel yang melakukan pembakaran, dan polisi tengah menyelidikinya.
Kantor kemanusiaan PBB melaporkan terdapat 29 serangan pemukim di Tepi Barat dalam periode 11–17 November, yang mengakibatkan 11 warga terluka serta kerusakan pada rumah-rumah, dua masjid, puluhan kendaraan, lahan pertanian, ternak, dan sekitar 1.000 pohon serta bibit.
Sementara itu, pasukan Israel tercatat telah menewaskan lebih dari 200 warga Palestina sepanjang tahun ini, termasuk 50 anak-anak, menurut juru bicara PBB Stephane Dujarric.
Dalam laporan teranyar, Kementerian Kesehatan Palestina menyebut dua remaja Palestina berusia 18 dan 16 tahun tewas akibat tembakan Israel pada malam sebelumnya. Belum ada kejelasan mengenai detail kejadian tersebut, dan kepolisian Israel belum memberikan komentar.
Netanyahu bertemu pejabat militer, Shin Bet, dan Kepolisian Israel untuk membahas opsi meredam kekerasan. Menurut seorang pejabat Israel yang meminta anonim, usulan yang mengemuka termasuk program pendidikan bagi pemukim yang melakukan kekerasan.
Pejabat itu juga mengatakan akan ada pertemuan lanjutan untuk membahas langkah tambahan. Kantor Perdana Menteri belum memberikan pernyataan resmi terkait isi pertemuan.
Kekerasan pemukim meningkat selama musim panen zaitun Palestina pada Oktober hingga awal November dan terus berlanjut. Netanyahu menyebut para pelaku sebagai “segelintir ekstremis” yang mencoba mengambil hukum di tangan sendiri.
Namun kelompok HAM dan warga Palestina menilai masalahnya jauh lebih struktural dan sudah menjadi fenomena harian di wilayah tersebut.








