Solusiindonesia.com — Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengecam keras ancaman militer dari Amerika Serikat (AS), menegaskan bahwa negaranya menolak “perdamaian budak” di tengah pengerahan angkatan laut AS secara besar-besaran di kawasan Karibia selama 22 pekan terakhir.
Saat berpidato di hadapan para pendukungnya di Caracas pada Senin (1/12/2025), Maduro menuduh Washington berupaya menggulingkannya dari kekuasaan dan menerapkan “terorisme psikologis” melalui agresi militer.
Pernyataan Kunci dan Konteks Ketegangan
Maduro menyatakan bahwa Venezuela menginginkan perdamaian, tetapi perdamaian harus diwujudkan “dengan kedaulatan, kesetaraan, dan kebebasan,” bukan melalui penindasan.
”Kita tidak menginginkan perdamaian budak, atau perdamaian koloni!” tegas Maduro, merujuk pada operasi angkatan laut AS yang telah berlangsung sejak September.
Eskalasi ketegangan ini dipicu oleh peningkatan tekanan dari Presiden AS Donald Trump. Langkah-langkah AS meliputi:
Pengerahan Militer: Angkatan laut AS dikerahkan secara masif di Karibia.
Serangan Kapal: Setidaknya 21 serangan dilancarkan terhadap kapal-kapal yang diduga mengangkut narkoba di Laut Karibia dan Pasifik Timur, yang dilaporkan menewaskan sedikitnya 83 orang.
Ancaman Wilayah Udara: AS merilis peringatan keras bahwa wilayah udara Venezuela “harus dianggap ditutup.”
Penetapan Organisasi Teroris: Washington menetapkan Kartel de los Soles, yang diduga dipimpin oleh Maduro, sebagai organisasi teroris asing.
Maduro membantah terlibat dalam aktivitas kriminal dan mengklaim pengerahan militer AS dimaksudkan untuk menggoyahkan pemerintahannya, menyebutnya sebagai “22 minggu agresi yang dapat digambarkan sebagai terorisme psikologis.”
Berbicara di luar istana kepresidenan, Maduro, didampingi pejabat seniornya, bersumpah untuk memberikan “kesetiaan mutlak” kepada rakyat Venezuela dan mempertahankan kedaulatan negara hingga akhir hayatnya.
Komunikasi Rahasia AS-Venezuela
Di tengah retorika keras ini, Presiden Trump pada Minggu (30/11) mengakui telah berbicara via telepon dengan Maduro, namun menolak untuk mengungkapkan rincian pembicaraan tersebut. Maduro sendiri belum memberikan komentar mengenai percakapan telepon itu, meskipun ia sebelumnya menyatakan kesiapan untuk bertemu langsung dengan Trump.
Laporan menyebutkan bahwa Trump juga menggelar pertemuan dengan sejumlah pejabat tinggi keamanan nasionalnya untuk membahas situasi di Venezuela, mengindikasikan bahwa tekanan AS kemungkinan akan terus meningkat








