Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Internasional

Penyitaan Kapal Minyak oleh AS Getarkan Caracas: Washington Tingkatkan Tekanan

×

Penyitaan Kapal Minyak oleh AS Getarkan Caracas: Washington Tingkatkan Tekanan

Sebarkan artikel ini
Presiden Amerika Serikat, Donald trump / foto: instagram

Solusiindonesia.com — Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat telah menyita sebuah kapal tanker minyak di perairan dekat Venezuela, sebuah langkah yang mempertinggi ketegangan dengan pemerintahan Presiden Nicolás Maduro. pada Rabu (11/12/2025)

Penyitaan kapal dagang dengan pengerahan militer AS merupakan tindakan yang jarang terjadi dan menjadi bagian dari tekanan agresif Washington terhadap Caracas.

Dikutip dari AP News, Trump mengatakan bahwa kapal tersebut merupakan “kapal tanker besar, sangat besar, sebenarnya yang terbesar yang pernah disita.”

Ia tidak merinci lebih jauh alasan penyitaan, namun menyebut, “kapal itu disita karena alasan yang sangat bagus.” Ketika ditanya terkait nasib minyak yang diangkut, Trump menanggapi singkat: “Kurasa kita akan menyimpannya.”

Menurut seorang pejabat AS yang berbicara secara anonim, operasi ini dipimpin oleh Penjaga Pantai AS dengan dukungan Angkatan Laut, memanfaatkan kewenangan penegakan hukum federal.

Operasi bermula dari kapal induk USS Gerald R. Ford yang tengah berada di Laut Karibia dalam demonstrasi kekuatan bersama armada kapal perang lainnya.

Rekaman yang diunggah Jaksa Agung Pam Bondi memperlihatkan personel Penjaga Pantai melakukan fast-roping dari helikopter ke dek kapal, kemudian bergerak menyisir bagian atas kapal dengan senjata siap terhunus.

Bondi menyatakan bahwa tanker tersebut selama bertahun-tahun telah berada dalam daftar sanksi AS karena diduga terlibat dalam jaringan peredaran minyak ilegal yang terkait organisasi teroris asing.

Pemerintah Venezuela mengecam keras operasi tersebut, menyebutnya sebagai “pembajakan internasional” dan menuduh AS berupaya merampas sumber daya minyak negara itu.

Caracas menilai aksi ini memperjelas motif sebenarnya di balik tekanan berkelanjutan Washington terhadap Venezuela.

Dokumen PDVSA menunjukkan kapal bernama Skipper sebelumnya yang dikenal sebagai M/T Adisa berangkat dari Venezuela sekitar 2 Desember dengan muatan sekitar 2 juta barel minyak mentah berat, sebagian merupakan milik perusahaan minyak milik negara Kuba.

Adisa sendiri dikenai sanksi oleh AS sejak 2022 karena dituduh menjadi bagian dari jaringan tanker bayangan yang menyelundupkan minyak mentah untuk kepentingan Garda Revolusi Iran dan kelompok Hizbullah.

Penyitaan ini memperkuat fokus AS pada alur bisnis minyak Venezuela yang selama bertahun-tahun beroperasi di bawah rezim sanksi. PDVSA, yang menjadi penopang ekonomi negara itu, semakin bergantung pada perantara dan perusahaan-perusahaan cangkang internasional untuk memasarkan minyaknya.

Langkah terbaru Washington ini memicu kritik dari sejumlah anggota Kongres AS. Senator Chris Van Hollen mengatakan penyitaan tersebut menimbulkan keraguan atas narasi resmi pemerintah bahwa pengerahan kekuatan militer di kawasan tersebut bertujuan memberantas penyelundupan narkoba.

“Ini hanyalah bukti lain bahwa fokusnya sebenarnya adalah perubahan rezim,” ujarnya.

Sejumlah analis dan pakar hukum menilai penyitaan kapal tanker di laut lepas merupakan tindakan luar biasa dan berpotensi memicu ketegangan internasional.

Insiden ini terjadi hanya sehari setelah militer AS menerbangkan jet tempur di atas Teluk Venezuela serta di tengah meningkatnya kritik terhadap operasi serangan kapal yang telah menewaskan lebih dari 80 orang sejak September.

Hingga kini, Penjaga Pantai mengarahkan seluruh permintaan komentar lebih lanjut terkait penyitaan kapal tanker tersebut kepada Gedung Putih.

Image Slide 1