Solusiindonesia.com — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan persetujuan kesepakatan ekspor gas alam bernilai 35 miliar dolar AS ke Mesir, yang disebut sebagai perjanjian gas terbesar sepanjang sejarah Israel.
dikutip dari AP News, kesepakatan ini dinilai tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga berpotensi meredakan ketegangan hubungan kedua negara yang memburuk selama konflik dua tahun di Jalur Gaza.
Dalam pengumuman nya, Netanyahu menyebut gas alam Israel akan diekspor ke Mesir selama 15 tahun ke depan melalui perusahaan energi raksasa asal Amerika Serikat, Chevron, Disampaikan pada Rabu (17/12/2025)
Chevron merupakan pemilik utama ladang gas Israel di Laut Mediterania. Dari total nilai penjualan gas tersebut, sekitar separuh pendapatan diperkirakan akan masuk ke kas negara Israel.
Dalam pernyataan video yang direkam sebelumnya, Netanyahu menegaskan bahwa kesepakatan ini memiliki arti strategis bagi negaranya.
“Kesepakatan ini sangat memperkuat posisi Israel sebagai kekuatan energi regional, dan berkontribusi pada stabilitas di kawasan kita,” ujar Netanyahu.
Mesir, yang berbatasan langsung dengan Israel dan Jalur Gaza, selama ini memainkan peran penting sebagai mediator antara Israel dan kelompok militan Palestina Hamas. Peran tersebut menguat menjelang gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat dan disepakati pada Oktober lalu.
Di sisi lain, Kairo juga kerap melontarkan kritik keras terhadap operasi militer Israel di Gaza, yang telah menewaskan puluhan ribu warga Palestina serta menyebabkan kehancuran luas di wilayah tersebut. Hingga kini, pemerintah Mesir belum memberikan konfirmasi resmi atas pengumuman Netanyahu terkait kesepakatan gas tersebut.
Kesepakatan ini sebelumnya sempat tertunda. Menteri Energi Israel Eli Cohen, sekutu dekat Netanyahu, pernah menunda prosesnya dengan alasan ketentuan awal dinilai tidak menguntungkan bagi Israel. Penundaan itu bahkan sempat membuat Menteri Energi AS Chris Wright membatalkan kunjungan resminya ke Israel pada Oktober lalu.
Namun, Cohen kini menyatakan dukungannya terhadap hasil akhir perjanjian tersebut. Ia terlihat mendampingi Netanyahu saat pengumuman dilakukan pada Rabu malam dan menyatakan bahwa kesepakatan yang dicapai telah memenuhi kepentingan Israel.
Israel sendiri menemukan cadangan gas alam besar di lepas pantai Mediterania pada awal 2000-an. Ekspor gas mulai dilakukan hampir satu dekade lalu, pertama ke Yordania, kemudian diperluas ke Mesir.
Dalam perkembangan terpisah, Kementerian Pertahanan Israel pada Rabu yang sama mengumumkan bahwa parlemen Jerman telah menyetujui perluasan perjanjian pertahanan terkait sistem pertahanan rudal Arrow 3 milik Israel.
Perluasan tersebut meningkatkan nilai kontrak dari 3,5 miliar dolar AS menjadi 6,5 miliar dolar AS, menjadikannya kesepakatan ekspor pertahanan terbesar yang pernah dicapai Israel.
Jerman memutuskan membeli sistem Arrow 3 sebagai bagian dari upaya memperkuat pertahanan udara terhadap potensi ancaman dari Rusia.








