Scroll untuk melanjutkan berita!
Iklan di Solusiindonesia.com
Internasional

Krisis Kesehatan Gaza Kian Parah, Ribuan Pasien Menunggu Perawatan

×

Krisis Kesehatan Gaza Kian Parah, Ribuan Pasien Menunggu Perawatan

Sebarkan artikel ini
Kondisi Gaza / foto: tangkapan layar x

Solusilndonesia.com — Seorang pejabat kesehatan senior di Gaza memperingatkan bahwa sistem kesehatan di wilayah tersebut berada di ambang kehancuran paling parah sepanjang sejarah, seiring ribuan pasien terancam meninggal dunia atau mengalami kecacatan permanen akibat pengepungan ketat Israel yang terus berlangsung.

Munir al-Barsh, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, menyebut kondisi rumah sakit di Gaza sebagai “tragis dan mengerikan”. Selasa (23/12/2025) sesuai kutipan dari AL Jazeera.

Ia menegaskan bahwa pembatasan ketat Israel terhadap masuknya pasokan medis secara langsung melumpuhkan kemampuan tenaga kesehatan dalam menangani kasus-kasus kritis.

Para dokter di wilayah yang dilanda perang itu telah berulang kali memperingatkan bahwa upaya penyelamatan nyawa sangat terhambat akibat penolakan Israel untuk mengizinkan masuknya perlengkapan medis esensial.

Meski gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat telah berlaku sejak Oktober, Israel disebut terus melanggar kesepakatan dengan Hamas dengan tidak memenuhi jumlah truk bantuan medis yang disepakati, sehingga memperparah krisis kesehatan yang berkepanjangan.

Al-Barsh menjelaskan bahwa rumah sakit di Gaza mengalami kekurangan parah obat-obatan dan perlengkapan medis, terutama bahan habis pakai untuk operasi. Ia menyebut hampir 75 persen kebutuhan medis tidak tersedia, termasuk larutan medis, anestesi, kain kasa, serta perlengkapan dialisis. Kondisi ini diperburuk oleh pemadaman listrik dan keterbatasan generator.

Menurutnya, situasi tersebut merupakan krisis kesehatan paling berbahaya sejak berdirinya Otoritas Palestina lebih dari tiga dekade lalu.

Selama lebih dari dua tahun perang yang disebut sebagai genosida, hampir seluruh fasilitas kesehatan di Gaza menjadi sasaran serangan. Setidaknya 125 fasilitas kesehatan rusak, termasuk 34 rumah sakit. Lebih dari 1.700 tenaga kesehatan tewas, sementara Israel masih menahan 95 dokter dan petugas medis Palestina, 80 di antaranya berasal dari Gaza.

Di sisi lain, ribuan pasien masih menunggu rujukan untuk mendapatkan perawatan di luar wilayah tersebut. Al-Barsh menekankan bahwa dampak krisis tidak hanya dirasakan korban serangan, tetapi juga pasien dengan penyakit kronis dan kelompok rentan.

Sekitar 4.000 pasien glaukoma terancam mengalami kebutaan permanen akibat ketiadaan pengobatan. Selain itu, hampir 40.000 perempuan hamil yang mengungsi terpaksa tinggal di tempat penampungan tidak layak, meningkatkan risiko kesehatan ibu dan janin.

Ia juga memperingatkan bahwa sekitar 320.000 anak di bawah usia lima tahun menghadapi risiko kekurangan gizi, seiring memburuknya kondisi kemanusiaan akibat pembatasan bantuan oleh Israel.
Mekanisme pemindahan pasien ke luar Gaza sebenarnya masih tersedia, namun prosesnya panjang dan rumit.

Al-Barsh mengungkapkan sedikitnya 1.156 pasien meninggal dunia saat menunggu izin perjalanan untuk mendapatkan perawatan medis.

Saat ini, hampir 20.000 pasien tercatat dalam daftar tunggu, sekitar 18.500 di antaranya telah mendapat persetujuan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dari jumlah tersebut, sekitar 3.700 pasien berada dalam kondisi kritis, termasuk sekitar 4.300 anak.

Al-Barsh mendesak Israel segera membuka perbatasan guna memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan dan memfasilitasi evakuasi medis bagi ribuan pasien kritis. Ia memperingatkan bahwa setiap penundaan lebih lanjut berpotensi merenggut lebih banyak nyawa.

Sejak Oktober 2023, serangan Israel di Gaza telah menewaskan sekitar 71.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 171.000 lainnya.

Image Slide 1