Solusiindonesia.com — Ketika kalender mulai menipis dan senja di penghujung Desember meredup, hadir sebuah kerinduan untuk “pulang”. Bukan sekadar pulang ke rumah fisik, melainkan pulang menuju palung diri yang paling sunyi. Memahami getar kegelisahan itu, Majlis At-Toyyibah Kepuh Kota Malang hadir mengulurkan tangan melalui perhelatan spiritual yang khidmat.
Acara ini dirancang bukan sekadar seremoni pergantian angka, melainkan jembatan yang menghubungkan ketajaman literasi fikih dengan kelembutan refleksi batin.
Menenun Cahaya Lewat Literasi Fikih
Perjalanan spiritual ini diawali dengan membasuh dahaga intelektual. Dalam sesi Kajian Fikih, jemaah diajak menyelami samudera hukum Islam yang dipandu oleh para penjaga lentera ilmu:
- KH Ali Mas’ud
- Ust. Bambang S.S
- Ust. Abdul Aziz Damanhuri, S.HI., MHI
Ketiganya membedah syariat dengan pendekatan yang komprehensif, mulai dari hakikat perintah salat dalam perspektif fikih, kedalaman tasawuf, hingga relevansi fikih kontemporer. Tujuannya satu: memastikan setiap langkah jemaah di tahun mendatang berpijak pada landasan yang kokoh dan diridhai-Nya.
Kidung Rohani: Saat Budaya Menemukan Tuhannya
Suasana malam di Kepuh kian menyayat kalbu dengan kehadiran Ust. Ki Ageng Genggolo. Melalui kajian budaya serta untaian tembang dan kidung rohani Islam Jawa, beliau menyuarakan harmoni antara tradisi dan ketauhidan.
Petikan “dawai spiritual” ini menjadi pengingat bahwa akar budaya tak boleh tanggal demi menjaga pohon keimanan tetap tegak. Kehadiran unsur budaya ini memberikan warna unik, menjadikan dakwah terasa lebih meresap ke dalam sani.
Puncak Kontemplasi: Menjemput Fajar dengan Hati Baru
Saat malam mencapai puncaknya, Ust. Ach Zaini Khusyairi, SM., CH. memandu sesi Kontemplasi dan Refleksi Pergantian Tahun. Di titik inilah, jemaah diajak berdialog dengan masa lalu—memeluk setiap luka dan mensyukuri setiap bahagia yang telah terlewati.
“Kami berharap kegiatan ini membantu jemaah memahami makna Isra Mi’raj, sekaligus melewati pergantian tahun dengan kontemplasi diri yang tulus,” tutur Gus Arif Setiawan S.HI, Khadimul Majlis Atoyyibah.
Komitmen Abadi di Bumi Kepuh
Gus Arif menegaskan bahwa momentum ini bukan sekadar acara sekali jalan, melainkan awal dari sebuah tradisi. Majlis At-Toyyibah berkomitmen menjadikan refleksi akhir tahun ini sebagai agenda rutin yang adaptif terhadap zaman, namun tetap setia pada napas spiritualitas murni.
Melalui acara ini, Majlis At-Toyyibah Kepuh Kota Malang membuktikan bahwa pergantian tahun adalah waktu terbaik untuk membasuh jiwa, agar kita siap melangkah ke masa depan dengan hati yang lebih bening.








