Solusiindonesia.com — Khutbah Jum’at 25 Juli 2025 kali ini solusiindonesia.com kutip dari NU Online dan ditulis oleh Ustadz Abdul Karim Malik, Alumni Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri Jawa Timur.
Pada khutbah Jum’at 25 Juli 2025 kali ini akan membahas penting rasa aalu untuk melakukan perbuatan tercela apalagi menjurus pada perbuatan maksiat dan berbuah dosa di hadapan Allah SWT. Tentu tema ini adalah sebuah refleksi dari kemajuan zaman yang serba tekhnologi, sehingga banyak masyarakat kita melakukan segala sesuatu atas nama mencari popularitas, namun menabrak norma-norma yang sudah diatur, baik secara hukum negara dan agama.
Khutbah Jum’at 25 Juli 2025 ini mengingatkan kita bersikap tetap menjaga prisnsip-prinsip religiutas sebagai guiden dalam menjalani kehidupan, termasuk didalamnya adalah rasa malau melakukan sesuatu yang menjurus kemaksiatan apalagi tergolong dosa. Umbar aurat atas nama FYP, atau apa saja dilakukan untuk mencapai sebuah tujuan dunia, tanpa merasa malu meninggalkan unsur ukhrowi.
Berikut khutbah Jum’at 25 Juli 2025 yang dilansir solusiindonesia.com dari NU Online pada Kamis, (24/07/2025).
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ شَهَادَةَ الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُوقِنِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰهِ الصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِينُ، أَدَّى الرِّسَالَةَ وَبَلَّغَ الْأَمَانَةَ، فَكَانَ مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللّٰهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا.
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّ الْهُدَى وَالرَّحْمَةِ، الْمَبْعُوثِ بِالْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ، خَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ وَإِمَامِ الْمُرْشِدِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَأَتْبَاعِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ: بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِ إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِینَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. صَدَقَ اللّٰهُ العَظِيْمُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Dalam kesempatan yang mulia ini khatib berwasiat kepada hadirin sekalian terutama untuk diri khatib pribadi agar kita sama-sama menjaga ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala dengan istiqamah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya.
Karena takwa merupakan bekal terbaik untuk menghadap kepada Allah kelak di hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman:
وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ
Artinya: “Berbekallah, karena
sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat,” (QS Al-Baqarah. Ayat 197).
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Perlu diingat bahwa takwa adalah prinsip kehidupan bagi setiap orang mukmin yang akan menuntunnya mendapat kebahagiaan sejati di sisi Allah Ta’ala. Dan perlu diketahui, takwa bukan hanya tentang menjalan perintah Allah saja, melainkan juga menjauhi segala bentuk larangan-larangan-Nya.
Dan menjauhi larangan inilah yang akan menjadi ujian untuk melawan hawa nafsu. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Bidayatul Hidayah menyatakan:
اعْلَمْ أنَّ لِلدِّيْنِ شَطْرَيْنِ، أحَدَهُمَا: تَرْكُ المَنَاهِي، والآخَرُ: فِعْلُ الطَاعَاتِ.. وتَرْكُ المَنَاهِي هُوَ الأَشَدُّ؛ فَإِنَّ الطَّاعَاتِ يَقْدِرُ عَلَيْهَا كُلُّ وَاحِدِِ، وتَرْكُ الشَّهَوَاتِ لاَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلاَّ الصِّدِّيْقُوْنَ
Artinya, “Ketahuilah bahwa agama memiliki dua unsur penting: yang pertama adalah meninggalkan segala bentuk larangan, dan yang kedua adalah menjalankan ketaatan. Dan meninggalkan larangan adalah yang paling berat. Sebab, menjalankan perintah mampu dilakukan oleh siapa saja, tetapi meninggalkan syahwat hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang sungguh-sungguh mencari ridha Allah.”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Malu adalah salah satu sifat yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Jika seseorang tidak memiliki rasa malu, maka mereka dapat melakukan apa saja yang mereka inginkan, tanpa memikirkan konsekuensi atau dampaknya terhadap diri sendiri dan orang lain.
Perubahan nilai dan norma sosial, pengaruh media sosial, dan tekanan untuk menjadi “sempurna” di mata publik dapat menjadi faktor-faktor yang menyebabkan menurunnya rasa malu di kalangan masyarakat.
Banyak orang yang lebih memprioritaskan popularitas dan pengakuan daripada menjaga kesucian dan wibawa diri. Bahkan, berkurangnya rasa malu ini bisa menyebabkan orang berani memamerkan kemaksiatan dan kejahatan.
Oleh karena hal tersebut penting sekali bagi seorang mukmin memiliki sifat malu. Karena dengan sifat malu tersebut ia dapat mengendalikan dan mengelola pribadinya agar tidak terjerumus dalam hawa nafsu yang mendorong pada kemaksiatan atau hal-hal buruk lainnya.
Dalam Islam malu dinilai sebagian dari bentuk keimanan. Sebagaimana sabda Baginda nabi Muhammad SAW:
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ
Artinya: “Iman itu memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari iman.” (Muattafaq alaih) Dalam kesempatan lain beliau nabi juga bersabda:
الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ، وَالْإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ، وَالْبَذَاءُ مِنَ الْجَفَاءِ، وَالْجَفَاءُ فِي النَّارِ
Artinya: “Malu adalah bagian dari iman, dan iman tempatnya di surga. Sedangkan perbuatan keji (tidak tahu malu) adalah bagian dari keras kepala (kasar), dan keras kepala (tidak mau menerima dan tidak peduli akan kebenaran) tempatnya di neraka.” (HR Ibnu Majah)
Kiranya dua hadits ini cukup untuk kita jadikan pedoman, bahwa rasa malu merupakan sifat yang penting dimiliki pribadi seorang mukmin.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah Selanjutnya, Imam Abu Laits As-Samarqandi dalam kitabnya Tanbihul Ghafilin halaman 478 membagi rasa malu menjadi dua aspek:
الْحَيَاءُ عَلَى وَجْهَيْنِ: حَيَاءٌ فِيمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَحَيَاءٌ فِيمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللّٰهِ تَعَالَى، أَمَّا الْحَيَاءُ الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَغُضَّ بَصَرَكَ عَمَّا لَا يَحِلُّ لَكَ، وَأَمَّا الْحَيَاءُ الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللّٰهِ تَعَالَى أَنْ تَعْرِفَ نِعْمَتَهُ فَتَسْتَحِيَ أَنْ تَعْصِيَهُ.
Artinya: “Malu memiliki dua aspek: malu terhadap manusia dan malu terhadap Allah Ta’ala. Adapun malu terhadap manusia adalah dengan kamu menundukkan pandangan dari apa yang tidak halal bagi kamu. Sedangkan malu terhadap Allah Ta’ala adalah mengakui nikmat-Nya, sehingga kamu merasa malu untuk bermaksiat kepada-Nya.”
Dua aspek rasa malu ini jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maka akan berdampak positif bagi pribadi seorang mukmin. Sebab, rasa malu yang mencakup dua aspek yakni rasa malu terhadap Allah dan rasa malu terhadap manusia akan membawa orang yang memiliki sifat malu tersebut untuk tidak gegabah dalam bertindak, mau itu sedang dalam keramaian atau dalam kesendirian.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Imam Abu Laits As-Samarqandi juga menukil nasihat sebagian ulama salaf kepada putranya:
إِذَا دَعَتْكَ نَفْسُكَ إِلَى كَبِيرَةٍ، فَارْمِ بِبَصَرِكَ إِلَى السَّمَاءِ، وَاسْتَحِ مِمَّنْ فِيهَا، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَارْمِ بِبَصَرِكَ إِلَى الْأَرْضِ وَاسْتَحِ مِمَّنْ فِيهَا، فَإِنْ كُنْتَ لَا مِمَّنْ فِي السَّمَاءِ تَخَافُ، وَلَا مِمَّنْ فِي الْأَرْضِ تَسْتَحِي، فَاعْدُدْ نَفْسَكَ فِي عِدَادِ
الْبَهَائِمِ
Artinya, “Ketika hawa nafsumu mengajakmu melakukan dosa besar maka pandanglah ke arah langit, lalu merasalah malu dengan penghuni langit. Ketika kamu tidak melakukan hal tersebut, maka pandanglah ke arah bumi, lalu merasa malulah dengan penghuni bumi. Apabila kamu tidak takut dengan penghuni langit dan tidak malu dengan penghuni bumi, maka anggaplah dirimu bagian dari hewan.”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah Demikian khutbah singkat pada siang hari yang mulia ini, semoga bermanfaat bagi kita semua, dan semoga kita diberikan rasa malu yang menuntun kita untuk mengendalikan hawa nafsu kita dari perbuatan tercela, terlebih dari melakukan kemaksiatan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلَى رِضْوَانِهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا،
أَمَّا بَعْدُ. فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ، إِتَّقُوااللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى، يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلٰيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرّٰحِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَاللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ
Demikianlah khutbah Jum’at 25 Juli 2025, semoga bermanfaat untuk kita semua. Wallahua’lam Bhis Showab







