Oleh : Dr. H. Fuad Nashori, S.psi., M.Si., M.Ag., Psikolog*
Solusiindonesia.com – sangat lama di tahap pertama. Benci, marah, sakit hati, dan dendam selalu dipeliharanya dalam hati. Budaya jothakan yaitu saling mendiamkan yang ada dalam budaya Jawa kadang mempersulit untuk memaafkan. Budaya harga diri yang sangat tinggi juga mempersulit pemaafan. Dulu, orangtua Romeo dan orangtua Yuliet saling membenci bahkan mereka ingin kebencian itu dapat diteruskan dari waktu ke waktu.
Mengajukan permintaan maaf juga bukan perkara mudah. Sebagian besar orang melihat masalah yang dihadapi dengan sudut pandangnya sendiri. Kalaupun orang merasa bersalah atas berlangsungnya suatu kezaliman, mereka umumnya berpikir bahwa orang lain yang lebih salah. Para koruptor saja lebih senang menyalahkan orang lain dari pada diri sendiri. Padahal kesadaran bahwa “saya yang bersalah”, saya ikut bersalah, atau saya memiliki andil kesalahan yang lebih besar, sangat penting untuk membuat seseorang dapat meminta maaf.
Saya percaya bahwa bila seseorang punya kejujuran dalam dirinya, maka ia akan mudah memperoleh insight atau pencerahan untuk menyadari kesalahannya. Bila orang yang beriman, maka ia akan cenderung berupaya memperoleh memperoleh pengampunan dari Tuhan (Menghapus Dosa dengan Memaafkan dan Meminta Maaf – Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia (uii.ac.id). Pengampunan dari Tuhan akan diperolehnya hanya bila ia memperoleh pemaafan dari orang lain.
Tipe yang Mudah dan Sulit Memaafkan
Apakah memang ada tipe-tipe orang yang secara psikologis punya kecenderungan sukar memberi dan meminta maaf? Apakah orang yang sukar meminta maaf sukar juga memberi maaf?
Secara umum kepribadian berhubungan dengan pemberian maaf. Saya menemukannya dalam penelitian yang saya lakukan pada sejumlah etnis. Tentu juga saya menemukannya dalam berbagai riset yang dilakukan para ahli sebelumnya. Tipe kepribadian kebaikan hati atau agreeableness adalah tipe yang secara konsisten paling mudah memaafkan. Ciri orang-orang tipe ini adalah hangat, kooperatif, tidak mementingkan diri sendiri, menyenangkan, jujur, dermawan, sopan, dan fleksibel.
Dengan sifat-sifat itu mereka mudah memaafkan. Pertimbangan mereka sehingga mereka mudah memaafkan adalah karena mereka bertanggung jawab. Tanggung jawab moral untuk menghadirkan kebaikan kepada orang lain menjadikan mereka mampu memaafkan. Karena tanggung jawab itu, mereka tidak menganggap penting kezaliman yang dilakukan orang lain kepada diri mereka. Yang mereka pentingkan adalah tanggung jawab untuk memberi dampak positif kepada orang lain. Pemaafan diberikan untuk memudahkan hadirnya dampak positif bagi orang lain.
Tipe yang kedua yang juga mudah memaafkan adalah kepribadian ekstraversi. Ciri-ciri orang tipe ini adalah keterbukaan ekspresi, asertif, dan berjiwa sosial. Mereka juga mudah memaafkan. Ini karena mereka suka bergaul, suka berada di antara banyak orang. Dengan memaafkan, mereka ingin mempertahankan hubungan baiknya dengan orang lain. Mereka ingin agar relasinya dengan relasinya dengan orang lain yang memburuk dapat diperbaiki. Memaafkan menjadikan mereka nyaman menjalin dan menjalani relasi dengan orang lain.
Tipe yang paling sulit memaafkan adalah kepribadian neurotisisme. Ciri penting dalam orang tipe ini adalah mudah merasa marah, sedih, stres, cemas dan depresi. Dengan perasaan itu individu selalu diliputi rasa permusuhan terutama terhadap orang yang pernah menyakiti hatinya. Orang yang bertipe neurotis adalah orang yang tidak stabil secara emosi.
Mereka mudah terpengaruh oleh suasana hati akibat stimulasi tak menyenangkan dari lingkungan. Istilah populernya adalah baper. Mereka mudah baper bila ada hal yang tidak menyenangkan. Sebagian dari mereka mempunyai ciri sumbu pendek. Kalau merasa tersakiti, mereka menunjukkan emosi yang negative seperti marah, benci, sakit hati. Sebaliknya, orang yang secara emosional stabil cenderung tidak terpengaruh suasana hati atau terlalu sensitif sehingga mereka mudah untuk memaafkan.
Demikian. Wallahu a’lam bish shawab.
Dr. H. Fuad Nashori adalah dosen Jurusan Psikologi Fakultas psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII (*)







